Khawatir perihal jodoh?
kisah inspiratif dari sahabat
Bersabarlah, Jodoh Akan Segera Tiba
Oleh: Santi Nindi Asih
Siapa yang tidak ingin mendapatkan
pasangan yang baik, soleh, pintar mengaji dan paham ilmu agama. Aku rasa itu menjadi
idaman para kaum hawa, tentu saja tidak akan ada yang menolak jika didatangkan
jodoh seperti itu. Semua orang menginginkan pasangan hidup yang baik, baik
menjalani kehidupan bersama hingga menuju jannah-Nya. Namun apakah diri ini
sudah sepantasnya mendapatkan kriteria jodoh yang seperti itu?
Perlu aku pahami, bahwa sebelum aku
lahir di bumi masalah rezeki, jodoh dan maut sudah ditentukan oleh Allah swt.
Tergantung dengan bagaimana cara aku untuk mendapatkan semua itu agar Allah
memberikan segala keinginan hambanya. Dan yang menjadi tanda tanya dalam
pikiranku saat ini ialah siapa jodohku? Saat teman-teman seusiaku sudah
menemukan pujaan hatinya dan memutuskan untuk bersanding di pelaminan, saat itu
pula deretan pertanyaan mulai bermunculan.
Menghadiri pernikahan teman-teman
tanpa pasangan menimbulkan pertanyaan baru setelah “kapan menyusul?” Akupun
hanya menjawab dengan senyuman yang berusaha semanis mungkin di depan pasangan
yang sedang berbahagia dan berkata “Insya Allah, tahun ini akan segera menyusul
ke pelaminan.” Dengan sangat percaya diri aku memastikan untuk menikah tahun
ini, padahal aku tidak memiliki pasangan (kekasih) bahkan calon suamipun tidak
ada. Pertanyaan barupun mulai muncul setelah aku memberikan kepastian untuk
menikah tahun ini.
“Calonnya orang mana?”
“Siapa calonnya?”
“Kok, calonnya enggak diajak?”
lagi-lagi aku hanya menjawab dengan
imajinasiku sendiri, “Ada, calonnya masih dirahasiakan. Tunggu saja
undangannya.” Kali ini aku berhasil menjawab pertanyaan teman-temanku hingga
tidak menimbulkan pertanyaan baru. Ketika teman-temanku datang bersama pasangannya,
aku sama sekali tidak memiliki rasa cemburu karena datang dengan seorang diri.
Cemburu terhadap apa yang aku lihat, cemburu terhadap keromantisan mereka,
cemburu terhadap kelanggengan hubungan yang terjalin sekian lama hingga saat
ini masih saling percaya untuk menjaga cintanya.
Aku memiliki prinsip yang berbeda
diantara teman-temanku yang lain, di saat mereka sibuk pacaran, sibuk mencari
calon pacar dan sibuk mencocokan hati dengan berganti pacar. Namun, aku tidak
ingin melakukan suatu kegiatan yang dinamakan pacaran, yah pacaran sebelum
dihalalkan. Aku percaya bahwa pacaran merupakan suatu kegiatan yang sangat
merugi, mereka yang sibuk pacaran susah payah membangun kepercayaan untuk
menjaga cintanya, cinta yang belum tentu membawanya ke ikatan halal. Begitu
susahnya menjaga kepercayaan Allah untuk tidak pacaran, betapa susahnya menjaga
hati dari godaan-godaan nafsu perasaan, betapa susahnya menahan diri untuk
tidak terjebak ke dalam rayuan-rayuan gombal lelaki di luaran. Betapa susahnya
memantapkan hati untuk menjadi taat di hadapan sang Illahi, mentaati
perintah-Nya bahwa dalam islam pacaran itu dilarang. Pacaran merupakan jalan
menuju zina, walaupun kita mengaku bahwa ketika pacaran tidak melakukan hal-hal
yang dilarang. Lalu menurutmu bermesraan lewat sms, telepon dengan lawan jenis
yang bukan mahram itu tidak dilarang? Bermesraan dengan yang bukan mahram itu
bukan zina? Kebanyakan orang yang melakukan zina pada awalnya hanya “sakadar”
“Sakadar sms dan teleponan setiap
hari.”
“Sakadar jalan-jalan, nonton lalu
makan tidak lebih.”
“Dan
janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Surat Al-Isro:32)
Dalam surat tersebut Allah
memerintahkan kepada umatnya untuk tidak mendekati zina, mendekati zinanya saja
sudah dosa apalagi langsung melakukan zina. Itu sebabnya aku selalu menolak
untuk melakukan kegiatan pacaran atau hanya sakadar jalan dengan yang bukan
mahram.
***
Aku bukan tidak ingin menikah
diusiaku saat ini yaitu dua puluh tiga tahun. Orang tua yang selama ini
menanyaka kesiapanku, orang tua yang selalu menanyakan waktu bahagia itu kapan
akan tiba. bukankah, waktu dan segala ketentuan sudah diatur sedemikian rupa
oleh Sang Maha Pencipta.
“Sabar bu, nanti juga ada waktunya
aku nikah.”
“Tapi kapan? Kamu tidak pernah
memikirkan hal itu.”
“Memikirkan Bu, sambil memperbiaki
diri juga.”
Kesalahan yang tidak pernah disadari
diri sendiri adalah memaksa. Memaksa Allah untuk segera menjawab doa-doa
hambanya, memaksa Allah untuk segera mendatangkan apa yang hambanya inginkan.
Tanpa perlu memaksa Allah akan memberikan yang terbaik selagi hambanya berusaha
untuk menjadi lebih baik di mata Tuhannya.
Aku meminta kepada Allah jodoh
seorang lelaki yang baik agamanya, selalu melakukan perintah-Nya, menjauhi
larangan-Nya, menjaga pandangannya, dan tidak lupa menjaga ketetapan imannya.
Pokoknya yang salih (menetapkan dalam hati). Setelah menentukan kriteria jodohku,
aku pun tidak tergesa-gesa mencari ke sana kemari untuk mencari jodoh atau
bahkan minta untuk dicarikan kepada Ustadzah atau orang tua sekali pun.
Menurutku, itu semua tidak perlu dilakukan. Aku yakin kalau jodohku adalah
“dia”, dia yang saat ini menjadi cermin pribadi diriku sendiri.
Karena
jodoh merupakan cerminan diri, maka aku selalu berusaha untuk menjadikan diri
ini lebih baik. Agar jodohku kelak mendapatkan yang baik, amiin.
Namun
aku menyadari bahwa diri ini bukanlah orang yang telah baik, bahkan jauh dari
kata baik. Aku hanya seorang wanita yang sedang berusaha memperbaiki diri
sendiri, bukankah tidak ada kata
terlambat untuk memperbaiki diri, tidak ada kata terlambat untuk terus belajar
menuju ridho-Nya.
***
Bulan ke empat di tahun 2018,
seperti biasanya rabu adalah jadwal kajian rutin khusus akhwat di kampungku. Hampir
setiap rabu aku hadir di kajian tersebut, insya Allah langkah kakiku semata
hanya untuk mencari ilmu dan keridhoan Allah semata. Tidak ada niat apapun
selain untuk belajar agar diri ini menjadi pribadi yang lebih baik di mata
Allah.
Tidak disangka sama sekali, selepas
acara selesai Ustadzah memberikan lembaran kertas ukuran A4 yang dilapisi oleh
amplop berwarna coklat. Saat itu aku masih belum mengerti maksud Ustadzah
memberikan amplop tersebut.
“Ini apa Ustadzah?”
“Ini ada profile ta’aruf Ikhawan,
baca saja dulu. Nanti kabari Ana yah, Ukh.”
“Duh, kenapa harus ke Ana Ustadzah?”
“Umurmu kan udah cukup, lagian
enggak baik kalau kelamaan. Keburu layu duluan.”
Layu? Ada pisau yang mencoba
menggoreskan luka saat mendengar kata “Layu”. Kata tersebut membuat aku
menerima amplop itu. Sesampainya di rumah, aku mulai membuka amplop tersebut
dan membaca lembar demi lembar. Isi yang tertulis pada kertas tersebut lebih
menceritakan tetang kepribadian secara spesifik, mulai dari pengenalan nama,
tanggal dan tahun lahir, riwayat pendidikan, riwayat keluarga,dan visi misi ke
depannya. Sebagian besar yang dijelaskan dalam profile tersebut memang sudah
memasuki kriteriaku, terutama latar belakang agama yang satu akidah (manhaj).
Pekan berikutnya, aku kembali hadir dalam kajian rutin, lalu tanpa ragu aku
katakan kepada Ustadzah bahwa boleh
untuk memulainya. Tentu saja untuk menghilangkan keraguan tersebut sudah karena
Allah lewat shalat istiqarah.
Tiga hari setelah memberikan
keputusan tersebut kepada Ustadzah, Ustadzah memberi kabar bahwa laki-laki itu
ingin datang menemui kedua orang tuaku, didampingi dengan Ustadzah dan suaminya
serta kedua orang tuanya juga. Tentu, sejak saat menerima profile laki-laki itu
aku sudah menceritakan hal tersebut kepada kedua orang tuaku. Mereka sangat
berharap banyak tentang hal ini, berharap bahwa Allah dapat meridhoi segala
keputusan yang akan diambil dan diterima.
Saat laki-laki itu datang ke rumah,
keluargaku dan keluarganya berkumpul menjadi satu, membicarakan banyak hal
mengenai kebiasaan, aktivitas dan segala macam yang memang seharusnya diketahui
satu sama lain. Tidak lupa akupun memberikan pertanyaan kepada laki-laki
tersebut, namun biasa saja sekadar ngobrol santai agar tidak terkesan
introgasi. Setelah pertemuan tersebut, aku kembali meminta pendapat kepada
kedua orang tuaku. Pendapat mengenai dirinya, agar dapat melanjutkan untuk
ta’aruf atapun tidak. Karena bagaimanapun restu orang tua, Ridho Allah juga.
Jadi untuk masalah seperti ini harapan dan keputusanku berada di tangan orang
tua, Alhamdulliah orang tuaku menyukai segala tata cara yang laki-laki itu
sampaikan,mulai dari pola pikir, cara bicara, dan tidak lupa mengenai pemahaman
agama yang baik.
Setelah mendapatkan restu orang tua,
aku pun terus meminta kepada Allah untuk meyakinkan diri. Keyakinan bahwa
laki-laki tersebut merupakan utusan Allah untuk membimbing, menjaga dan
mengajakku kejalan-Nya. Akupun tidak berhenti sampai di sini, bagaimanapun rasa
ingin tahu ini selalu muncul. Rasa ingin tahu tentang bagaimana lingkungannya,
bagaimana pergaulan di luar keluarganya. Bagiku masalah mencari informasi di
zaman sekarang itu bukan hal yang sulit, apalagi seorang wanita kalau sudah kepo sangat teliti.
Seteleh Allah menetapkan keyakinan
pada hati masing-masing untuk saling memiliki, tidak perlu waktu lama untuk
melangsungkan pernikahan. Terhitung masa ta’aruf yang hanya berlangsung tiga
minggu lalu kami memutuskan untuk menikah dua bulan kemudian. Tujuan kami
memang dari awal hanya mencari Ridho Allah untuk melengkapi ibadah kami, maka
kami pun takut jika terlalu lama dan syaiton akan masuk di antara kita lalu
menggoyahkan niat baik ini.
Apa yang aku yakini terjawab sudah,
bahwa jodoh adalah cerminan diri sendiri. Aku dan dia memiliki banyak kesamaan
dalam berbagai hal, seperti halnya aku dan dia yang sama-sama sedang berusah
memperbaiki diri, belajar untuk lebih taat kepada Allah. Jodoh tidak akan salah
menetap kepada hati siapa akan singgah, tidak perlu memaksa untuk di datangkan
segera. Tidak perlu juga berkelana dengan cara yang salah, cukuplah dengan
memperbaiki diri sendiri untuk menjemputnya, memohon dengan lirih kepada sang
illahi. Sebab, Allah telah mengatur kapan tibanya masa indah ini.
Bener banget, tugas kita sebenarnya cukup sederhana, yaitu memperbaiki diri setiap harinya. karena jodoh kita nanti adalah cerminan diri kita. nggak perlu sampai putus asa mencari diri sendiri, Allah sudah mempersiapkan seseorang untuk kita, dan akan menunjukkannya jika kita telah siap dan tiba saatnya.
ReplyDeleteBtw, salam kenal ya kak hehehe Kreta Amura