pengelolaan Pendidikan, Makalah
BAB
1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dunia
pendidikan kita terutama jalur pendidikan formal yakni sekolah sampai sampai
saat ini belum berhasil membuktikan kualitas (mutu) yang diharapkan sesuai
dengan tujuan pendidikan nasional di berbagai jenjang termasuk di dalamnya
jenjang pendidikan dasar.
Menurut teori bahwa keberhasilan harus didukung dan ditunjang oleh tiga komponen yakni sekolah termasuk didalamnya pemerintah, orang tua dan lingkungan masyarakat. Dari teori tersebut timbul pertanyaan apakah ketiga unsur tersebut berjalan normal? Sejauh mana perhatian ketiga komponen tersebui terhadap dunia pendidikan? kiranya tidak bijak apabila rendahnya dunia pendidikan ini mengkambinghitamkan salah satu komponen, intropeksi diri tentang sejauh mana perhatian yang diberikan terhadap kemajuan dunia pendidikan.
Menurut teori bahwa keberhasilan harus didukung dan ditunjang oleh tiga komponen yakni sekolah termasuk didalamnya pemerintah, orang tua dan lingkungan masyarakat. Dari teori tersebut timbul pertanyaan apakah ketiga unsur tersebut berjalan normal? Sejauh mana perhatian ketiga komponen tersebui terhadap dunia pendidikan? kiranya tidak bijak apabila rendahnya dunia pendidikan ini mengkambinghitamkan salah satu komponen, intropeksi diri tentang sejauh mana perhatian yang diberikan terhadap kemajuan dunia pendidikan.
Peran
kepala sekolah sangat berpengaruh dalam peningkatan dan kemajuan pendidikan.
Dalam kesempatan ini penulis mencoba membahas esensi peranan kepala sekolah
dalam meningkatkan kemajuan pendidikan di sekolah dasar. Kepala sekolah adalah
pemimpin tertinggi di sekolah walaupun kepemimpinan itu sifatnya situasional,
artinya suatu tipe kepemimpinan dapat efektif untuk situasi tertentu dan kurang
efektif untuk situasi yang lain.
Kepemimpinan
kepala sekolah adalah cara atau usaha kepala sekolah dalam mempengaruhi,
mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakan guru, siswa, orang tua siswa
dan pihak lain yang terkait untuk bekerja / berperan serta guna mecapai tujuan
yang ditetapkan. Jabatan kepala sekolah pada hakekatnya merupakan amanat dari
sang Pencipta (Alloh SWT), dan lahirnya amanat dari bangsa dan negara yang
secara yuridis formal diangkat berdasarkan surat keputusan (SK) dari
pemerintah. Oleh karena itu suatu saat amanat itu akan diminta pertanggungjawabannya
baik oleh oleh Alloh SWT, maupun oleh bangsa dan negara.
Keinginan menjadi kepala sekolah merupakan hal yang positif dan hak bagi setiap guru, sebab tidak mustahil dengan keinginan tersebut akan memotivsi diri untuk melaksanakan tugas dan kewajiiban dengan sebaik baiknya.
Keinginan menjadi kepala sekolah merupakan hal yang positif dan hak bagi setiap guru, sebab tidak mustahil dengan keinginan tersebut akan memotivsi diri untuk melaksanakan tugas dan kewajiiban dengan sebaik baiknya.
Sesungguhnya
menduduki jabatan kepala sekolah itu kalau kita kaji secara jujur merupakan
beban dan perjuangan yang tidak mudah karena dituntut untuk dapat meningkatkan
kualitas pendidikan, oleh karena itu sangat proposional apabila momentum
promosi jabatan kepala sekolah tetap berakar pada kerangka peningkatan kualitas
pendidikan.
Secara sederhana kepala sekolah adalah orang yang diangkat oleh pihak yang berwenang untuk mengelola suatu sekolah. Karena praktek pengangkatan seperti ini, mungkin kepala sekolah belum cukup untuk mengembang tugas yang rumit ini. Mungkin setelah diangkat, kepala sekolah akan bekerja sambil belajar. Akan dirasakan betapa sulitnya melaksanakan tugas, karena banyak yang harus dipelajari dalam kaitannya dengan sikap, pengetahuan dan keteramplian yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif ditambah masih kurangnya kemampuan manajerial.
Secara sederhana kepala sekolah adalah orang yang diangkat oleh pihak yang berwenang untuk mengelola suatu sekolah. Karena praktek pengangkatan seperti ini, mungkin kepala sekolah belum cukup untuk mengembang tugas yang rumit ini. Mungkin setelah diangkat, kepala sekolah akan bekerja sambil belajar. Akan dirasakan betapa sulitnya melaksanakan tugas, karena banyak yang harus dipelajari dalam kaitannya dengan sikap, pengetahuan dan keteramplian yang diperlukan untuk mengelola sekolah secara efektif ditambah masih kurangnya kemampuan manajerial.
Sebagai
bahan renungan, penulis mencoba membuat kriteria kepala sekolah atau seorang
calon kepala sekolah yang diperlukan sebagai pribadinya yang mencalonkan kepala
sekolah dasar diantaranya :
1. Pengalaman
Kerja
Pengalaman
kerja bagi calon kepala sekolah wajar dijadikan sebagai kriteria sebab dengan
pengalaman kerja dimiliki setidaknya ia mampu belajar untuk memperbaiki
kekurangan yang pernah didalamnya, itupun dengan syarat punya kemauan, sebab
pengalaman adalah guru yang paling utama yang sesuai dengan peraturan mentri
pendidikan No 13 tahun 2007 tentang standar kepala sekolah dasar bahwa
kualifikasi umum kepala sekolah / madrasah memilki pengalaman
sekurang¬kurangnya 5 (lima) tahun.
2. Dedikasi
(pengabdian)
Pengabdian
merupakan hal yang penting untuk diperhatikan bagi seorang kepala sekolah,
sebab pada dasamya bahwa jabatan kepala sekolah bukan anugrah tapi amanah yang
harus dipikul dengan penuh dedikasi, sehingga tidak ada kesan terutama
ditingkat SD, bahwa dengan menduduki jabatan kepala sekolah menjadi lepas
mengajar. Wajar bahwa dalam jabatan kepala sekolah lebih berat dari guru karena
itulah pekerjaan yang harus dijalani oleh kepala sekolah.
3. Kejujuran
3. Kejujuran
Kejujuran
adalah suatu tindakan dimana antara perkataan dan perbuatannya sama, maka
faktor kejujuran merupakan cerminan dari sosok pribadi yang baik yang berpijak
pada nilai nilai agama. Dengan kejujuran akan memancarkan sikap keterbukaan,
dimana isu sentral yang sering terdengar dilingkungan sekolah adalah mengenal
keuangan yang sering menimbulkan konflik internal. Dengan demikian kejujuran
terutama yang berkenaan dengan pinansial perlu dipraktekkan secara transparan
dalam yang pelaksanaannya dimotori oleh kepala sekolah sebagai pemimpin, sebab
kalau tidak maka situasi seperti ini akan menimbulkan konflik Internal yang
pada akhirnya akan menciptakan (tidak harmonis) hubungan dilingkungan kerja
sehingga akan melemahkan kekompakan dan kebersamaan dalam mencapai tujuan.
4. Prestasi
Kepala
sekolah harus berprestasi terutama bekaitan dengan profesionalisme, dalam hal
ini dapat diukur dari segi yaitu : (a) keberhasilan mengajar. (b) kualifikasi
pendidikan minimal memiliki kualifikasi akademik sadana (S1) atau diploma empat
(D-IV) kependidikan atau non kependidikan pada perguruan tinggi yang
terakreditasi hal ini sesuai dengan peraturan mentri pendidikan No.13 tahun
2007 tentang Standar Kepala Sekolah / Madrasah.
1.2 Rumusan
Masalah
Seluk
beluk masalah kepemimpinan pada hakikatnya sudah ada sejak manusia hidup
berkelompok, setiap organisasi yang bergerak dibidang apa saja membutuhkan
seorang pemimpin, sehingga dengan kepemimpinannya diharapkan dapat
menghantarkan atau membawa organisasi tersebut kearah keberhasilan pencapaian
tujuannya.
Suatu
ungkapan mengatakan bahwa pemimpinlah yang bertanggung jawab atas kegagalan
pelaksanaan suatu pekerjaan. Hal ini merupakan suatu ungkapan yang
menggambarkan betapa pentingnya kedudukan sang pemimpin dalam suatu organisasi.
Bahkan ada pula yang melukiskan bahwa pemimpin ibarat seorang pengembala maka
setiap pengembala akan diminta pertanggungjawaban atas perilaku
pengembalaannya.
Seorang
pakar dalam manajemen, George. R. Terry merumuskan bahwa “Kepemimpinan
merupakan suatu aktifitas dalam mempengaruhi sejumlah orang untuk diarahkan
dalam mencapai suatu tujuan organisasi atau dalam pengertian lain dapat
dirumuskan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan keterampilan menggerakan orang
lain didalam mencapai tujuan” Dalam hal ini seorang pemimpin harus mampu
menumbuhkan, melahirkan, dan mengembangkan usaha dengan iklim yang kooperatif
dalam kehidupan keorganisasian serta mampu melaksanakan pengendalian, pegawasan
serta penilaian.
Pemimpin yang
berhasil adalah pemimpin yang dapat memadukan rasa kebersamaan bawahannya,
sehingga mereka dapat bekerja dengan baik tanpa paksaan serta memahami
tanggungjawabnya. Oleh karena itu seorang pemimpin harus mempunyai bekal
keahlian dan pengalaman dalam memimpin, sehingga tidak mendapat kesulitan dalam
mengendalikan bawahannya.
Disamping
dapat membaca keinginan dan kehendak dari bawahannya serta mengerti apa yang
harus diberikan kepada bawahannya, juga dapat mengerti akan tujuan pimpinannya.
Karena untuk memegang jabatan pimpinan tidak semudah yang diduga. Pemimpin
dituntut untuk dapat membangkitkan perasaan dan keinginan bawahan agar dapat
bekerja tanpa beban paksaan, dan tidak ditanggapi perasaan takut dalam bekerja.
Dalam
aktiftasnya pimpinan dan staf dihadapkan dalam ragam persoalan. Keputusan yang
bijaksana adalah ketepatan dalam memutuskan suatu persoalan. Pengambilan
keputusan hendaknya tidak disertai perasaan emosional, karena akan berpengaruh
dalam keputusan yang akan diambil. Di sini daya intelegensia yang tinggi dari
pimpinan sangat dibutuhkan pada saat-saat darurat untuk pengambilan keputusan
yang tepat dan akurat.
Kepekaan
perasaan besar pengaruhnya dalam mewujudkan kebersamaan, hindari tersinggungnya
bawahan. Kalau masalah ini terabaikan oleh pimpinan, maka akan mendapat
kesulitan untuk menetralisirnya serta dapat membawa dampak negatif terhadap
masa depan pimpinan, disamping itu berakibat juga tertekanya perasaan batin
bawahan, yang akhirnya bawahan bekerja dengan perasaan terpaksa.
Secara
prinsipil ada masalah masalah pokok yang dibutuhkan bawahan, misalnya perhatian
dan perlakuan yang baik dari pimpinan, bila kebutuhan pokok ini kurang
diperhatikan, maka mereka lambat laun akan meninggalkan sang pimpinan dan
mencari pimpinan baru yang dapat memenuhi kebutuhan pokoknya secara lambat laun
juga akan berakibat juga patal bagi organisasi yang dipimpinnya.
Kepala
sekolah di Indonesia melaksanakan tugasnya dalam lingkungan ekonomi, sosial,
budaya, politik dan geografi yang berbeda beda lingkungan tempat tugas
mengandung tuntutan dan tantangan yang unik, juga peluang sekaligus kendala.
Namun bila dikaji lebih jauh, maka pekerjaan kepala sekolah sebenarnya lebih
memberikan, motivasi dalam untuk berkinerja lebih baik ketimbang menyurutkan
langkah.
Bila
kita plikirkan secara mendalam setiap masalah pada hakekatnya kompleks, begitu
kompleksnya sehingga tidak mungkin kita kemukakan seluruhnya. Oleh karena itu
masalah perlu dibatasi agar lebih jelas dan mudah. Dalam makalah yang penulis
beri judul Peranan Kepala Sekolah Dalam Memajukan Kualitas Pendidikan di
Sekolah Dasar, membatasi masalah pada:;’
1. Bagaimana fungsi kepala sekolah sebagai pemimpin disatuan pendidikan Sekolah Dasar ?
2. Bagaimana peranan kepala sekolah sebagai Manajer (Pengelola) disatuan pendidikan Sekolah Dasar ?
1. Bagaimana fungsi kepala sekolah sebagai pemimpin disatuan pendidikan Sekolah Dasar ?
2. Bagaimana peranan kepala sekolah sebagai Manajer (Pengelola) disatuan pendidikan Sekolah Dasar ?
1.3 Tujuan
Penulisan
Tujuan dari
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Memberikan pengetahuan tentang kepala sekolah sebagai pemimpin
2. Menambah pengetahuan mengenai kepala sekolah sebagai manajer sekolah
3. Meningkatkan kemampuan analisis dan kreatifitas untuk memecahkan suatu masalah
2. Menambah pengetahuan mengenai kepala sekolah sebagai manajer sekolah
3. Meningkatkan kemampuan analisis dan kreatifitas untuk memecahkan suatu masalah
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Kepala
Sekolah Sebagai Manajer di Sekeloh
Antara
kepemimpinannya dan manajerial tidak dapat dipisahkan. Kepemimpinan akan
menjiwai manaher dalam melaksanakan tugasnya. Tugas kepala sekolah sering
dirumuskan sebagai EMASLIM, artinya educator (pendidikan), manager,
administrator, supervisor, leader (pemimpin), inovator (pencipta), dan
motivator (pendorong). Dalam melaksanakan ketujuh tugas itulah kepemimpinan
akan ditetapkan. Dengan kata lain, kepeminpinan harus terpadu dalam pelaksanaan
ketujuh tugas tersebut.
Sejalan
dengan implementasi konsep MBS, maka semakin penting peran kepala sekolah
sebagai manajer (pengelola) Pendidikan disatuan sekolah dalam upaya
meningkatkan mutu sekolah. Sebagai seorang manajer aktifitasnya harus melakukan
manajemen (mengelola) sekolah yang berorientasi pada pencapaian tujuan
pendidikan.
Dalam
pengelolaan sekolah hendaknya melalui berbagai kegiatan (aktivitas),
sebagaimana dikemukakan oleh A.Tabrani Rusyan “Pada umumnya kegiatan manajer
atau aktivitas manajemen itu adalah : Planing, Organizing, staffing, Directing
dan controlling”. (1997 : 20). Sedangkan Dadi Permadi Berpendapat "Prinsip
Prinsip manajemen yang lama dirumuskan dengan POAC (Planning, Organizing,
Actuating dan Controlling). Dalam manajemen yang modern sudah berubah dimana
sebelum membuat perencanaan sebaiknya didahului dengan mengkaji informasi
informasi yang relevan. Dan kedua pendapat di atas pada prinsipnya mempunyai
kesamaan pendapat bahwa dalam rangka pengelolaan sekolah tidak lepas dari
perencanaan, pengorganisasian dan pengawasan, yang pada manajemen modern
sebelum memulai langkah tersebut perlu mengkaji sumber informasi terutama
relevansinya dengan perubahan perubahan (inovasi).
Oleh
karena itu, peran kepala sekolah sebagai manajer mempunyai tugas dan kewjiban
sebagai berikut
1. Meningkatkan
mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengelola dan
memberdayakan sumber daya yang tersedia;
2. Meningkatkan
kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
melalui pengambilan keputusan bersama;
3. Meningkatkan
tanggung jawab sekolah kepada orang tua, sekolah dan pemerintah tentang mutu
sekolah;
4. Meningkatkan
kompetensi yang sehat antar sekolah untuk pencapaian mutu yang diharapkan.
2.1.1 Tuntutan Terhadap Manajer Sekolah
Kepala
sekolah adalah penghubung terpenting dalam jaringan itu untuk memastikan
efektivitas sekolah., kepala sekolah adalah guru senior yang dipandang memiliki
kualifikasi menduduki jabatan itu.
Dalam
kenyataannya, banyak diantaranya yang tadinya berkinerja sangat bagus sebagai
guru, menjadi tumpul setelah menjadi kepala sekolah. Karenanya, orang-orang
seperti ini telah mencapai puncak inkompetensinya dan akan tetap disitu sampai
pensiun.
Para kepala sekolah perlu memperoleh persiapan dan pelatihan, untuk mengelola sekolahnya secara efektif dan ini mcrupakan kebutuhan yang mendesak di negara sedang berkembang seperti di Indonesia ini.
Para kepala sekolah perlu memperoleh persiapan dan pelatihan, untuk mengelola sekolahnya secara efektif dan ini mcrupakan kebutuhan yang mendesak di negara sedang berkembang seperti di Indonesia ini.
Hal
ini dimaksudkan untuk membantu kepala sekolah merefleksikan realitas situasi di
Indonesia, yang peranannya kepala sekolah semakin rumit, cara ini dirancang
untuk lebih menyadarkan kepala sekolah tentang perlunya upaya terus menerus
untuk mengembangkan diri agar dapat menjadi kepala sekolah yang efektif. Hal
ini perlu ditularkan pada staf sekolah, agar pengembangan diri ini mengelembaga
di sekolah yang bersangkutan.
2.1.2 Fungsi Kepala Sekolah
1. Sebagai
administrator, mengelola adiministrasi sekolah, dalam hal menyusun program
tahunan (RAPBS), serta hal hal yang berkaitan dengan sekolah.
2. Sebagai
komunikator. Kepala sekolah memberikan pengarahan pembinaan para guru.
3. Sebagai motivator. Kepala sekolah hendaknya dapat membangkitkan dan memelihara kegairahan kerja pada guru, dengan memberikan gagasan gagasan yang baik bagi penyampaian KBM.
4. Sebagai inovator. Kepala sekolah hendaknya memiliki prakarsa atau gagasan perbaikan dalam pembaharuan pendidikan dan mendorong guru untuk melakukan hal yang berkaitan dengan pelajaran.
5. Sebagai fasilitator. Kepala sekolah harus mampu mengusahakan pengadaan alat/sarana sekolah, seperti meubelair dan sebagainya.
3. Sebagai motivator. Kepala sekolah hendaknya dapat membangkitkan dan memelihara kegairahan kerja pada guru, dengan memberikan gagasan gagasan yang baik bagi penyampaian KBM.
4. Sebagai inovator. Kepala sekolah hendaknya memiliki prakarsa atau gagasan perbaikan dalam pembaharuan pendidikan dan mendorong guru untuk melakukan hal yang berkaitan dengan pelajaran.
5. Sebagai fasilitator. Kepala sekolah harus mampu mengusahakan pengadaan alat/sarana sekolah, seperti meubelair dan sebagainya.
6. Sebagai
dinamisator. Kepala sekolah harus mampu sebagai pengerak dalam pencapaian
tujuan sekolah.
7. Sebagai transformator. Kepala sekolah sebagai alat penyampai nilai nilai pada gurunya.
8. Sebagai stimulator. Kepala sekolah harus mampu sebagai perangsang pemicu semangat kerja kepada guru.
7. Sebagai transformator. Kepala sekolah sebagai alat penyampai nilai nilai pada gurunya.
8. Sebagai stimulator. Kepala sekolah harus mampu sebagai perangsang pemicu semangat kerja kepada guru.
9. Kepala
sekolah sebagai pelaksana dan pengemban kurikulum.
10. Kepala
sekolah sebagai pembimbing. Kepala sekolah harus mampu mengembangkan profesi
guru.
2.1.3 Kepala Sekolah dan Sistem Kerja
2.1.3 Kepala Sekolah dan Sistem Kerja
Tanggung
jawab seorang kepala sekolah adalah tercapai hasil sebaik mungkin dengan
mengkoordinasikan sitem kerja pada unit kejanya secara efektif. Suatu sistem,
kerja secara sederhana dapat digambarkan dalam hubungan kondisi proses hasil
sebagai berikut :
Penjelasan Sistem Kerja Kepala Sekolah
Kondisi: Semua
masukan yang diperlukan sebagai kondisi dalam proses seperti faktor lingkungan
kerja (baik fisik maupun non fisik), diantaranya SDM, ruangan belajar dan
bekerja, peralatan belajar mengajar, struktur organisasi, prosedur, intruksi,
kebijakan pemerintah (kurikulum), hubungan antar pribadi dana suasana kerja.
Proses : Semua
kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai hasil (keluaran) misalnya bila
sekolah ditinjau sebagai suatu sistem, maka proses disini adalah interaksi
sernua komponen sekolah dalam pembelajaran .
Hasil : hasil
adalah keluaran, yaitu segala sesuatu yang dihasilkan dari proses kerja.
Misalnya : barang dan jasa tertentu atau laporan mengenal pelaksanaan
pekerjaan. Hasil sekolah sebagai sistem adalah lulusan sekolah.
Balikan
formatif : balikan (feedback) formatif adalah informasi yang digunakan untuk
mempengaruhi kualitas hasil balikan ini mengharuskan adanya perubahan dalam
cara menghasilkan perubahan tertentu, sebagai contoh kepala sekolah meminta
agar guru menggunakan tehnik mengajar tertentu dalam mengajar.
Balikan
motivatif : informasi yang digunakaan untuk mempengaruhi kualititas hasil /
keluaran. Informasi ini untuk meningkatkan kecapatan bekerja misalnya, kepala
sekola memuji seorang guru yang bekerja dengan baik dalam menangani keluhan
orang tua peserta didik.
2.1.4 Administrasi Kepala Sekolah
A. Bidang Umum
1. Program Kerja Kepala Sekolah Dasar
2. Tata Tertib SD
3. Surat Keputusan Sekolah
4. Papan Nama SD
5. Buku Pimpinan
6. Buku Pengumuman
7. Bukti Notula Rapat Guru
8. Buku Notula Rapat Kepala Sekolah
9. Buku Kegiatan Kepala Sekolah
10. Buku Agenda Surat
11. Buku Expedisi
12. Buku Arsip Surat
13. Bundel Surat Masuk
14. Buku Tamu I
15. Buku Tamu II
B. Bidang Pengajaran
1. Buku Kurikulum
2. Kalender pendidikan
3. Jadwal pelajaran
4. SK Tugas guru
5. Program supervise
6. Bundel hasil supervise
7. Instrumen supervise
8. Buku pembinaan proyek edukasi
9. Bundel arsip target dan pencapaian Kurikulum
10. Program evaluasi
C. Bidang Kemuridan
1. Buku Pendaftaran murid baru
2. Buku Penerimaan murid baru
3. Buku pokok / induk
4. Buku pencocokan buku induk
5. Buku klaper
6. Buku raport
7. Buku mutasi murid
8. Buku keadaan murid dalam setahun
9. Buku Kenaikan Kelas
10. Buku Pembagian Ijazah
11. Buku Album dan Photo lulusan
12. Bukti fisik pelayanan khusus, UKS, Pramuka, Dokter kecil, Perpustakan, Koperasi, BP
D. Bidang Kepegawaian
. Buku Pokok Kepegawaian
2. Daftar riwayat hidup guru penjaga
3. Daftar urutan kepangkatan
4. Daftar nilai DP 3
5. Bundel data pegawai (Guru dan Penjaga)
6. Bundel PAK
7. Buku tugas aktivitas guru / penjaga
8. Buku presensi guru dan penjaga
9. Buku bepergian
10. Buku cuti pegawai
E. Bidang Keuangan
1. RAPBS
2. Buku gabungan peneriman BOS
3. Buku Kas BOS
4. Bundel SPJ dana BOS
5. Buku Kas SBPP
6. Bundel SPJ SBPP
7. Buku Kas BOP
8. Bundel SPJ BOP
9. Buku Kas Umum
10. Buku Kas serba serbi
11. Buku cadangan peneriman tabungan anak
12. Buku tabungan murid
13. Kartu tabungan
14. Buku pengembalian tabungan Murid
15. Buku leger gaji
16. Buku kas gaji
17. Buku peneriman gaji
F. Bidang Perlengkapan Gedung
1. Bidang peneriman barang
2. Buku pengeluaran barang
3. Buku Inventaris (Satu tahun)
4. Buku Inventaris (lima Tahun)
5. Surat tanah sekolah
G. Bidang Hubungan Masyarakat
1. Buku Notula rapat dengan komite sekolah
2. Program Kerja dengan komite sekolah
3. Program Pameran
H. Bidang Statistik / Monogran
1. Organisasi Tugas Guru
2. Statistik / Grafik hasil Ulangan Umum
3. Statistik / Grafik Hasil UASBN
4. Statistik / Grafik kenaikan kelas
5. Statistik / Grafik kelulusan
6. Statistik / Grafik melanjutkan
7. Statistik / Grafik Keadaan murid
8. Statistik / Grafik Drop out
9. Statistik / Grafik Wajib Belajar
10. Statistik / Grafik Keadaan Guru / Pegawai
11. Statistik / Grafik DUK
12.Statistik / Grafik PAK
13. Statistik / Grafik Keuangan
14. Statistik / Grafik Denah Sekolah
15. Statistik / Grafik Organisasi Komite Sekolah
16. Statistik / Grafik Absen Murid
3.1 Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin
Kepala
sekolah sebagai pemimpin yang tugas dan kewajibannya adalah mengarahkan bawahan
kepada suatu komitmen dalam pelaksanaan tugas. Dengan demikian bahwa kepala
sekolah harus senantiasa mempengaruhi bawahan untuk melaksanakan tugas dengan
sebaik-baiknya. Hal ini bisa kita kaji gagasan dari Ki Hajar Dewantara sebagai
berikut :
• Ing ngarso
mangun karsa, artinya seorang pemimpin hendaknya menjadi panutan (contoh ) bagi
bawahan.
• Ing Madya mangun karsa, artinya pemimpin ikut kegiatan menggugah semangat anak buahnya.
• Tut Wuri Handayani, artinya pemimpin berupaya memberikan dorongan dari belakang.
Bagi orang Islam kepemimpinan Rassulullah wajar dijadikan landasan filosofis, dimana kepemimpinan beliau sangat mengedepankan contoh contoh perbuat an yang baik. Dengan demikian bagi seorang pemimpin yang dapat memberikan contoh nanti tidak aka sulit mengarahkan bawahan kearah yang diharapkan.
• Ing Madya mangun karsa, artinya pemimpin ikut kegiatan menggugah semangat anak buahnya.
• Tut Wuri Handayani, artinya pemimpin berupaya memberikan dorongan dari belakang.
Bagi orang Islam kepemimpinan Rassulullah wajar dijadikan landasan filosofis, dimana kepemimpinan beliau sangat mengedepankan contoh contoh perbuat an yang baik. Dengan demikian bagi seorang pemimpin yang dapat memberikan contoh nanti tidak aka sulit mengarahkan bawahan kearah yang diharapkan.
Dalam
pelaksanaannya keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi oleh
hal hal sebagai berikut :
a. Kepribadian
yang kuat. Kepala sekolah harus mengembangkan pribadi percaya diri, berani,
bersemangat, murah hati dan memiliki kepekaan sosial.
b. Memahami
tujuan pendidikan dengan baik. Pemahaman yang baik merupakan bekal utama kepala
sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru, siswa dan pihak lain serta
menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya.
c. Pengetahuan
yang luas. Kepala sekolah harus memiliki pengetahuan yang luas tentang bidang
tugasnya maupun bidang lain yang terkait.
d. Keterampilan
profisional yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah, yaitu :
- Keterampilan teknis, misalnya penyusun jadwal pelajaran mengsupervisi pengajaran, memimpin rapat dan dan seterusnya.
- Keterampilan teknis, misalnya penyusun jadwal pelajaran mengsupervisi pengajaran, memimpin rapat dan dan seterusnya.
- Keterampilan
hubungan kemanusiaan, misalnya bekerjasama dengan orang lain, memotivasi,
mendorong guru dan seterusnya.
- Keterampilan
konseptual, misalnya mengembangkan konsep pengembangan sekolah memperkirakan
masalah yang akan muncul dan mencari pemecahannya.
3.1.1 Prinsip prinsip Kepemimpinan Kepala Sekolah
Prinsip prinsip
kepemimpinan kepala sekolah secara umum:
a. Konstruktif,
artinya kepala sekolah harus mendorong dan membina setiap guru untuk berkembang
secara optimal
b. Kreatif,
artinya kepala sekolah harus selalu mencari gagasan dan cara baru dalam
melaksanakan tugasnya.
c.
Partisipatif, artinya mendorong ketertiban semua pihak yang terkait dalam
setiap kegiatan di sekolah.
d. KooperatIf, artinya mementingkan kerja sama dengan guru dan pihak lain yang terkait dalam melaksanakan setiap kegiatan.
d. KooperatIf, artinya mementingkan kerja sama dengan guru dan pihak lain yang terkait dalam melaksanakan setiap kegiatan.
e. Delegatif,
artinya berupaya mendelegasikan tugas kepada guru sesuai dengan deskripsi tugas
/ jabatan serta kemampuan mereka.
f. Integratif,
artinya selalu mengintegrasikan semua kegiatan, sehingga dihasilkan sinergi
untuk mencapai tujuan sekolah.
g. Rasional dan
objektif, artinya dalam melaksanakan tugas atau bertindak selalu berdasarkan
pertimbangan rasio dan objektif.
h. Piagmatis,
artinnya dalam menetapkan kebijakan atau target, kepala sekolah harus
berdasarkan kepada kondisi dan kemampuan nyata yang dimiliki sekolah.
i. Keteladanan,
artinya dalam memimpin sekolah, kepala sekolah dapat menjadi contoh yang baik.
j. Adaptabel dan fleksibel, artinya kepala sekolah harus dapat beradaptasi dan fleksibel dalam menghadapi situasi baru dan juga menciptakan situasi kerja yang memudahkan guru untuk beradaptasi.
3.1.2 Azas Kepemimpinan Kepala Sekolah
j. Adaptabel dan fleksibel, artinya kepala sekolah harus dapat beradaptasi dan fleksibel dalam menghadapi situasi baru dan juga menciptakan situasi kerja yang memudahkan guru untuk beradaptasi.
3.1.2 Azas Kepemimpinan Kepala Sekolah
a. Taqwa, taqwa
menjauhkan diri dan perbuatan perbuatan yang dilarang Tuhan dan taat kepada
perintah perintahnya.
b. Ing Ngarso
sung tulada, sebagai pemimpin memberi suri tuladan kepada yang dipimpinnya.
c. Ing Madya mangun karsa, ditengah tengah yang dipimpinnya terjun langsung bekerja sama bahu membahu.
c. Ing Madya mangun karsa, ditengah tengah yang dipimpinnya terjun langsung bekerja sama bahu membahu.
d. Tut Wuri
Hadayani, dari belakang memberi dorongan dan semangat kepada yang dipimpinya.
e. Ambeg Paramarta, pandai menentukan mana yang menurut ruang waktu dan keadaan patut didahulukan.
f. Prasaja, bersifat dan bersikap sederhana dan rendah hati.
e. Ambeg Paramarta, pandai menentukan mana yang menurut ruang waktu dan keadaan patut didahulukan.
f. Prasaja, bersifat dan bersikap sederhana dan rendah hati.
g. Satya,
loyalitas timbal balik dan bersikap hemat dan cemat.
h. Gemi
nastiti, hemat dan cermat mampu mengarahkan penggunaan kepada yang benar benar
yang diperlukan.
i. Belaka,
bersifat dan bersikap terbuka, jujur, dan siap menerima segala kritik yang
membangun, selalu mawas diri dan siap mempertanggungjawabkan perbuatannya.
j. Legawa, rela
dan ikhlas untuk pada waktunya mengundurkan diri dari fungsi kepemimpinanya dan
diganti dengan generesi baru.
3.1.3 Sifat sifat Kepemimpinan Kepala Sekolah
a. Adil, adalah
sifat pemimpin yang tidak menganakemaskan dan tidak menganaktirikan yang salah
dibina dan yang benar diberi penghargaan.
b. Jujur,
adalah sifat yang tidak menyalahgunakan tugas, wewenang, dan tanggungjawab.
Bekerja dengan jujur menghindari dari perbuatan dan tindakan tercela.
c. Sabar,
adalah sifat-sifat yang baik hati hati, tenang, tepat tidak terburu buru
melakukan sesuatu pekerjaan bila belum jelas asal usul dan tujuan serta dasar
hukumnya.
d. Ulet, adalah
sifat yang tidak kenal menyerah dalam mencapai cita cita atau rencana kerjanya.
e. Berinisiatif, adalah sifat yang kaya dengan kreasi yang selalu mencari dan menguji metode-metode baru dalam melaksanakan tugasnya.
e. Berinisiatif, adalah sifat yang kaya dengan kreasi yang selalu mencari dan menguji metode-metode baru dalam melaksanakan tugasnya.
f. Percaya
diri, sifat percaya pada kemampuan sendiri karena wawasan yang luas tentang
tugas, wewenang, dan tangungjawab.
g. Loyal, dalam
arti adanya keselarasan antara pelaksanaan dengan ketentuan dan kebijaksanaan
yang berlaku sehingga dapat menjamin kesatuan bahasa dan kesamaan tindak.
Berwibawa dan menarik, seorang pemimpin harus memiliki daya tarik dan wibawa
yang tinggi dengan selalu memupuk ilmu dan berperilaku yang baik.
2.1.3 Gaya Kepemimpinan Sekolah
Gaya
kepemimpinan yang harus harus diterapkan kepala sekolah sangat bergantung
kepada situasi dan kondisi guru yang dipimpinnya, seperti berikut :
SKEMA MOTIVASI GURU
Hubungan Gaya
Kepemimpinan dengan Motivasi Guru
Jika
menghadapi guru yang memiliki kemampuan baik dan motivasi kerja juga baik, maka
gaya kepemimpinan delegatif paling efektif, artinya, kepala sekolah lebih
banyak memberikan dan mendelegasikan tugas dan wewenang kepada guru.
Jika
menghadapi guru yang memiliki kemampuan kerja yang baik. Tetapi motivasi
kerjanya kurang, maka gaya kepemimpinan partisipatif paling efektif. artinya,
kepala sekolah berpartisipasi aktif dalam mendorong guru untuk menggunakan
kemampuannya secara optimal.
Jika menghadapi guru yang kurang memiliki kemampuan yang kurang baik, tetapi memiliki motivasi kerja yang baik, maka gaya kepemimpinan konstruktif paling efektif. Artinya, kepala sekolah hanyak memberikan bimbingan, sehingga kemampuan guru secara bertahap meningkat.
Jika menghadapi guru yang memiliki kemampuan yang kurang baik dan motivasi kerja kurang baik, maka gaya kepemimpinan instrukif paling efektif. Artinya, kepala sekolah leblh banyak memberi petunjuk yang spesifik dan secara ketat mengawasi guru dalam mengerjakan tugasnya.
Jika menghadapi guru yang kurang memiliki kemampuan yang kurang baik, tetapi memiliki motivasi kerja yang baik, maka gaya kepemimpinan konstruktif paling efektif. Artinya, kepala sekolah hanyak memberikan bimbingan, sehingga kemampuan guru secara bertahap meningkat.
Jika menghadapi guru yang memiliki kemampuan yang kurang baik dan motivasi kerja kurang baik, maka gaya kepemimpinan instrukif paling efektif. Artinya, kepala sekolah leblh banyak memberi petunjuk yang spesifik dan secara ketat mengawasi guru dalam mengerjakan tugasnya.
BAB III
KESIMPULAN
DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari
uraian uraian yang telah disampaikan pada bab bab sebelumnya, maka kiranya
dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu :
A. Peran kepala
sekolah sebagai pemimpin diantaranya adalah :
1. Kepala sekolah
memerankan fungsinya sebagai pemimpin tunggal di sekolah yang memiliki tangung
jawab serta dapat mempengaruhi mendorong, membimbing, mengarahkan dan
menggerakkan guru, siswa, orang tua siswa dari pihak lain yang terkait untuk
bekerja/ berperan serta guna mencapai tujuan yang ditetapkan.
2. Kepala
Sekolah haruslah dimulai degan menggunakan waktu sebaik baiknya dalam memimpin,
merencanakan gagasan gagasan baru, dan bekerja lebih dekat dengan para guru dan
seluruh yang terlibat didalamnya.
B. Peran Kepala
Sekolah sebagai manajer diantaranya adalah :
1. Peran kepala
sekolah harus dapat merekrut masyarakat untuk terlibat dalam memajukan
pendidikan baik yang beperan dengan dana atau dalam mengawasi sekolah untuk
meningkatkan mutu pendidikan, karena hasil pendidikan merupakan kepentingan
masyarakat.
2. Kepala sekolah harus terbuka dan jelas dalam mengelola keuangan sekolah.
3. Antara kepemimpinanya dan manajerial tidak dapat dipisahkan. Kepemimpinan akan menjiwai manajer dalam melaksanakan tugasnya. Tugas kepala sekolah sering dirumuskan sebagai EMASLIM, artinya educator (pendidikan), manager, administrator, supervisor, leader (pemimpin), inovator (pencipta), dan motivator (pendorong). Dalam melaksanakan ketujuh tugas itulah kepemimpinan akan ditetapkan.
2. Kepala sekolah harus terbuka dan jelas dalam mengelola keuangan sekolah.
3. Antara kepemimpinanya dan manajerial tidak dapat dipisahkan. Kepemimpinan akan menjiwai manajer dalam melaksanakan tugasnya. Tugas kepala sekolah sering dirumuskan sebagai EMASLIM, artinya educator (pendidikan), manager, administrator, supervisor, leader (pemimpin), inovator (pencipta), dan motivator (pendorong). Dalam melaksanakan ketujuh tugas itulah kepemimpinan akan ditetapkan.
Dengan kata
lain, kepemimpinan harus terpadu dalam pelaksanaan ketujuh tugas tersebut.
4.2. Saran
4.2. Saran
Upaya untuk
meningkatkan SDM yang berkualitas di Indonesia terus ditingkatkan. Salah
seorang yang memikul tugas ini adalah kepala sekolah karena kepala sekolah yang
menjadi manajer dalam menentukan segala kebijakan di sekolah. Kepala sekolah
menentukan arah kemana tujuan pendidikan akan dibawa.
Meskipun hasil
data yang diperoleh serta pembahasan yang masih kurang sempurna, maka tidak ada
salahnya kalau penulis memberikan saran saran kepada kepala sekolah atau calon
kepala sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah :
1. Mempunyai
visi dan misi jauh kedepan yang mendalam untuk meningkatkan kualitas
pendidikan.
2. Gaya kepemimpinan yang tepat untuk membudayakan mutu pendidikan.
3. Meyakinkan kebutuhan peserta didik sebagai pusat perhatian kegiatan/ kebijakan.
4. Menambah wawasan dengan ikut pelatihan pelatihan, membaca buku atau bacaan yang berkaitan dengan kepemimpinan dan peran kepala sekolah sebagai manajer di sekolah.
2. Gaya kepemimpinan yang tepat untuk membudayakan mutu pendidikan.
3. Meyakinkan kebutuhan peserta didik sebagai pusat perhatian kegiatan/ kebijakan.
4. Menambah wawasan dengan ikut pelatihan pelatihan, membaca buku atau bacaan yang berkaitan dengan kepemimpinan dan peran kepala sekolah sebagai manajer di sekolah.
DAFTAR PUSTAKA
1. Burhanudin. Analisis Administrasi, manajemen dan Kepemimpinan
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 1994
2. Cuandi, Ade. Kepemimpinan Kepala Sekolah, Bandung : Suara Daerah, (23 : 2003)
3. Depdikbud. Panduan Manajemen Sekolah. Dirjen Dikmenum, 1999
4. Kusmiharjo dan Burhanudin. Dasar dasar Manajemen Pendidikan II (Kepemimpinan) . Jakarta : Dikmenum, 1997
5. Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No. 132 Tahun 2007. Standar Kepala Sekolah / Madrasah. Jakarta
6. Sudirman. Peran Kepala Sekoloh Dalam Konsep MBS, Bandung : Suara Daerah, ( 19 : 2005)
7. Sudjana, Nana. Tuntutan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1987
8. Surakhman, S. Metode Penelitian. Bandung : Transito, 1980
2. Cuandi, Ade. Kepemimpinan Kepala Sekolah, Bandung : Suara Daerah, (23 : 2003)
3. Depdikbud. Panduan Manajemen Sekolah. Dirjen Dikmenum, 1999
4. Kusmiharjo dan Burhanudin. Dasar dasar Manajemen Pendidikan II (Kepemimpinan) . Jakarta : Dikmenum, 1997
5. Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No. 132 Tahun 2007. Standar Kepala Sekolah / Madrasah. Jakarta
6. Sudirman. Peran Kepala Sekoloh Dalam Konsep MBS, Bandung : Suara Daerah, ( 19 : 2005)
7. Sudjana, Nana. Tuntutan Penyusunan Karya Ilmiah. Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1987
8. Surakhman, S. Metode Penelitian. Bandung : Transito, 1980
Comments
Post a Comment