Surat Rindu Untuk Harimu
Hai
apa kabarmu?
Semoga
kabarmu selalu baik dan menyenangkan.
Masih
ingatkah kamu padaku? Seorang perempuan yang bahkan hampir empat tahun
menemanimu, pernah menjadi alasanmu untuk tersenyum, marah, bahkan untuk bangun
lebih awal agar kamu bisa menjemputku untuk bertemu?
Ini
adalah surat yang tak akan aku sampaikan secara langsung padamu,
Aku
takut akan suatu hal kau akan merobeknya, membuangnya, dan membiarkan tenggelam
dalam air hujan yang mengalir deras sore ini.
Masih
kau simpan coretan-coretan manisku? Tentangmu.
Bukan
aku lupa untuk mengingat hari di mana kamu lahir, bukan karena aku lepas dari
bagian hidupmu. Bukan karena itu aku tidak memberikan ucapan apapun. Aku tulis
surat ini sehari setelah tanggal ulang tahunmu, biasanya hari itu kita
merayakan dengan cinta. Jangan khawatir aku sudah jauh hari menyiapkan kado
yang mungkin tak seistimewa dulu. Kali ini tanpa Aku.
Aku
menulis surat ini dengan sangat hati-hati, karena aku takut meneteskan kembali
air mataku. Walau kenyataannya terus begitu.
Hai
Pao, rasanya aku rindu kata itu terucap begitu dekat dan melekat dalam
telingaku, menggema sampai saat ini bahkan menjadi sebuah lagu yang begitu
merdu di kala rindu itu terus singgah setiap harinya.
Kamu
bagaimana sekarang? Masih terlihat tinggi kah jika berdiri dan bersampingan
denganku? Pipimu masih menggembung yang sering aku cubit dikala gemas? Kamu masih
bawel dikala aku sakit perut karena kebanyakan makan sambal? Kamu masih suka
perhatian dikala aku lupa makan? Siapa perempuan yang saat ini merasakan
perhatian-perhatianmu, kebawelanmu, menatap tubuh tinggimu, mencubit pipi yang
menggemaskan itu? Siapapun dia pasti sangat beruntung mendapatkanmu saat ini.
Bukan
berari aku tidak lagi menginginkanmu kembali, aku rindu.....
Dulu
aku selalu cemburu pada kelakuanmu yang sering menebak-nebak wanita
memperhatikanmu, pada tatapan wanita yang melirikmu disaat kita kencan bahkan jelas-jelas
aku berada tepat disampingmu.
Saat
ini, aku hanya menebak dan menduga-duga tentang keterangan “online” yang muncul
dalam aplikasi WA, kadang aku berpikir siapa perempuan yang sedang menemani chatting mu sampai larut malam ini. Tapi
apa hakku saat ini, saat kamu bilang aku bukan siapa-siapa kembali. Hanya rindu
yang berterbangan yang di bawa angin pilu. Mungkin tak sampai padamu.
Sejak
kita pisah, memang rasanya biasa saja tidak ada rasa kehilangan, kesepian
sedikitpun karena memang aku dipihak yang meninggalkanmu. Tapi Tuhan adil,
memberikan rasa sepi disaat kamu sudah terlihat baik-baik saja. Namamu masih ku
sebut dalam do’a ku, agar suatu saat kita dipertemukan kembali dengan keadaan yang
lebih baik. Persis katamu.
Aku
nyatanya merindukanmu, hatiku jelas-jelas hampa tanpamu....
Mungkin
kamu kini telah bersamanya atau mungkin kamu masih tinggal bersama kenangan. Aku
tidak tahu pasti tentang pikiranmu saat ini. Yang aku tahu kamu seolah biasa
saja disaat aku menyapa dengan kerinduan.
Beginilah
aku, yang setiap saat selalu membuka isi timlinemu dengan harapan ada namaku
atau mungkin hanya sekedar inisial yang kau selipkan dalam statusmu. Berharap saja
kemungkinan kecil Tuhan mengabulkan doa-doaku.
Maaf,
aku kirimkan kado ini lewat jasa pengiriman. Aku tidak sesiap pertemuan awal
setelah perpisahan dulu, aku takut tiba-tiba aku ingin memelukmu dan tidak akan
melepaskannya kembali.
Aku
hanya tahu sedikit yang kamu butuhkan untuk hari-hari, maaf kalau memang kamu tidak begitu menyukainya. Aku
ingat beberapa kali saat kita berkunjung ke sebuah toko dan kamu menanyakan
dengan model yang sama. Semoga dapat menemani lelapmu, menghangatkan tubuhmu
dalam musim dingin ini.
Alasanku
untuk memutuskan hubungan ini memang karena aku ingin menjadi lebih baik, bukan karena aku tidak cinta dan sayang kembali padamu. Rasa sayangku mengalahkan akal sehatku, itu yag aku takutkan.
Bagaimana
dengan bertambahnya usiamu saat ini, menjadi lebih dewasa yah! Sebab rindu
tiba-tiba mengikat sikap satumu ini dan Doa ku kali ini biar aku sampaikan
pada pengijabah segala doa. Semoga kamu tidak menjadi orang yang pelupa.
Salam
Rindu......
Comments
Post a Comment