Hijrah & Hijab


Bey jilboob, hello syar’i
Oleh: SANTI NINDI ASIH
Dalam buku "Ya Allah Aku Pingin Berhijab". 
Aku, seorang remaja yang menyukai gaya modernisasi dengan pakaian trend masa kini dan gaya rambut warna-warni. Saat teman-temanku keluar masuk salon untuk memberikan warna pada rambutnya aku selalu tertarik untuk mengikuti gayanya tanpa peduli uang jajan habis begitu saja, dengan potongan rambut segi panjang poni lempar ke samping ditambah kebiasaan dalam berpakain yang menggunakan celana jeans  dan kaos ketat menurutku ini adalah gaya yang menunjukan bahwa aku termasuk ke dalam kategori remaja gaul.
Dalam kasat mata remaja dengan penampilan seperti ini merupakan remaja yang modis, mengikuti perkembangan zaman, dan mengikuti perkembangan penampilan yang dari tahun ke tahun selalu hadir trend terbaru. Tidak heran jika kebiasaanku menggati warna rambut terlalu sering dilakukan tanpa mempedulikan apapun.
Di saat Aku dan teman-temanku masih bertahan dengan memamerkan warna rambut yang mengundang perhatian banyak orang terutama kaum laki-laki, tidak heran jika banyak laki-laki yang memberikan sapaan tidak sopan kepada kami saat jalan-jalan sore. Hampir setiap sore aku dan ke tiga teman yang lain menghabiskan waktu sore untuk jalan-jalan mengendarai sepeda motor, ketika melewati kerumunan banyak laki-laki di situlah kita menemukan kebanggan tersendiri. Bagaimana tidak, banyak laki-laki yang mengejar kami sekedar untuk meminta nomer telepon, menanyakan nama, dan tidak sedikitpun yang bersorak “piwiit...” dengan dua jari yang dimasukan ke dalam mulut sehingga mengeluarkan suara layaknya seperti peluit.
“Dia sepertinya suka deh sama Aku.” Kata salah satu teman yang berboncengan denganku, dia begitu percaya diri bahwa bentuk godaan yang didapatnya merupakan sebuah pertanda bahwa laki-laki tersebut menaruh harapan kepada temanku. Tanpa kita sadari bisa saja siulan yang mereka bunyikan dari dua bibir yang mengapit jari itu merupakan ledekan semata untuk kita.
Yah, itulah aku di masa lalu yang terkubur oleh hijrahku saat ini. Aku mulai tertarik untuk meninggalkan kebiasaanku yang selalu memamerkan keindahan rambut panjangku, ketika Aku melanjutkan kuliah disalah satu Universitas ternama di kota ini. Pada saat aku mulai masuk ke jenjang perguruan tinggi, Aku mulai memakai jilbab yang ala kadarnya, memang pada saat SMA aku sesekali memakai jilbab untuk pergi ke sekolah itupun jika hari jumat saja. Karena sekolah mewajibkan siswa yang muslim untuk menggunakan jilbab ketika hari jumat, kelakuan nakalku yang tak terbiasa menggunakan jilbab sehingga sering menentang peraturan sekolah. Misalnya, ketika memasuki gerbang sekolah suda rapi menggunakan jilbab namun sesampainya di kelas jilbab aku lepas karena memang terasa panas sehingga membuat tidak nyaman. Astagfirallah..., mungkin ini yang dinamakan syaiton telah mengganggu manusia dalam hal apapun.
Syaiton bisa mengganggu kita dari mana saja, syaiton membisikan kepada manusia khususnya para waita, bahwa pakaian apapun termasuk jilbab itu tidak berkaitan dengan agama. Yang dirasakan hanyalah bahwa kewajibab yang utamanya hanyalah shalat, sehingga tidak adanya pola pikir yang menetapkan hati untuk berjilbab. Jilbab syar’i hanya sekedar pakaian yang dapat dipakai setiap perempuan namun tidak wajib. Inilah godaan syaiton yang telah menghasut pikiranku saat itu.
Keluargaku memang berasal dari keluarga yang paham tentang agama, ibu dan nenek yang tinggal satu rumah sudah  menggunakan jilbab syar’i. Sering kali ibuku menyuruh untuk memakai jilbab namun aku menolak dengan alasan teman-teman saja masih banyak yang belum berjilbab, semua usaha ibu untuk membujuk aku sia-sia merasa jengkel tersendiri dalam hatinya.
Dengan memakai jeans panjang, kemeja crop top dan jilbab yang hanya terkait oleh jarum lalu disilangkan ke bahu kanan kiri. Aku mengambil salah satu fakultas yang mengharuskan mahasiswanya memakai jilbab untuk digunakan pada saat memasuki lingkungan fakultas. Mulai saat itu, aku belajar untuk memakai jilbab. Jilbab tipis berbahan paris yang masih menampakan rambut bagaimana tidak, jilbab yang saat itu ku pakai benar-benar tipis dan tembus pandang  sehingga dapat menmpakan rabut dari balik jilbab. Tetapi, berawal dari jilbab parispun aku jadi terbiasa untuk memakai jilbab. Karena memang ini merupakan pengalaman pertama bagiku untuk memakai jilbab dalam aktivitas sehari-hari. Dengan gaya jilbab yang masih menampakan rambut dan menonjolkan lekuk tubuh, aku masih belum bisa lepas dari trend berpakaian walaupun aku sudah memakai jilbab karena saat itu memang sedang musim gaya jilbab yang diberi nama jilboob, aku mengetahui kata jilboob dari  teman sekelas ketika dosen Pendidikan Agama Islam saat itu sedang mengajar di kelasku.
Dosen PAI yang mengajar di Universitas tempatku kuliah begitu ramah kepada mahasiswanya, selalu memberikan pencerahan kepada mahasiswa-mahasiswa yang salah langkah dalam mengambil keputusan. Menurutku, beliau tidak memberikan materi yang kurikulum inginkan tetapi lebih kepada kebutuhan pengetahuan remaja tentang larangan-larangan yang harus dijauhkan. Seperti membahas tentang bahaya berpacaran, tentang larangan tabarujj untuk para perempuan dan tidak lain tentang jilbab yang seharusnya menurut perintah Allahh.
“Remaja zaman sekarang memakai jilbab itu hanya menutup rambut bukan menutup aurat.” Dosen PAI saat itu sedang menjelaskan keutamaan menutup aurat yang sesuai dengan syar’iat Islam. Tiba-tiba dalam keheningan waktu yang cukup lama, Dosen tersebut selalu memberikan waktu untuk mahasiswa dapat memahami materi yang dijelaskan atau mahasiswa dapat membuat pertanyaan dari apa yang mereka belum faham.
“Pak, berarti kalau jilboob itu sebenarnya bukan untuk menutup aurat yah?” terdengar suara pertanyaan yang dilontarkan dari salah satu mahasiswa laki-laki. Dia menanyakan keberadaan jilboob di era masa kini, bahkan dari dua puluh mahasiswa perempuan di kelasku hampir semua memakai jilbab dengan gaya jilboob. Jilboob biasa disebut kepada perempuan yang menggunakan jilbab dengan pakaian ketat sehingga terlihat seksi, atau dapat menonjolkan bagian-bagian tertentu yang mengundang perhatian banyak orang.
“Tidak ada yang namanya jilboob, apalah segala macam trend jilbab itu. Jilbab yang menutup semua aurat dari atas sampai kaki tanpa sedikitpun menonjolkan lekuk tubuh.” Dosenku dengan tegas menjelaskan tentang cara berpakain yang sesuai syar’iat Islam. Kemudian sang Dosenpu membacakan Ayat alqur’an yang  menunjukkan wajibnya jilbab bagi seluruh perempuan muslimah.
 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).
 Kagumanku jatuh pada seorang teman sebaya yang baru dikenal beberapa bulan lalu selepas penerimaan mahasiswa baru. Dia satu-satunya perempuan dengan jilbab panjang menutup dada di kelas, memberikan kesan tersendiri di mataku. Tutur katanya begitu lembut, selalu menjaga perkataannya agar tidak membuat orang lain tersakiti. Dia mengikuti salah satu organisasi dakwah di kampus, sejak ceramah tentang jilbab yang disampaikan oleh dosenku aku menjadi tertarik untuk menggunakan jilbab yang sesuai syar’iat islam.
Lingkungan di desa belum banyak yang berjilbab dan di lingkungan kuliah hampir semua perempuannya menggunakan jilbab walaupun belum sesuai syar’iat islam. Sejak kecil sampai SMP aku bersekolah tanpa jilbab, memasuki SMA aku belajar untuk memakainya namun godaan untuk melepas jilbab lebih kuat. Sering sekali ketika niatan dari rumah untuk memakai jilbab,sesampainya di sekolah jilbab aku lepas lalu dilipatnya rapih dan simpan dalam tas. Pengetahuan tentang jilbab yang aku miliki saat itu sangat minim ditambah lingkungan pergaulan dengan teman-teman yang paling utama kurang mendukung membuatku santai saja dengan penampilanku, padahal dosaku menumpuk.
Sebelum memutuskan untuk menggunakan jilbab syar’i yang menutup dada seperti yang dipakai oleh temanku, aku lebih dulu untuk mendekatinya dengan tujuan untuk dapat belajar lebih baik. Sebenarnya, aku sudah mulai ada keinginan untuk memperbaiki penampilan ini dengan pakaian syar’i tetapi aku masih berpikir tentang keadaan diri ini yang belum baik, hatiku masih penuh dengan debu-debu perasaan iri, dzolim, dan perkataan-perkataan buruk yang sering keluar dari mulutku.
Beberapa kali aku dan dia pergi ke suatu tempat, toko buku, dan tempat makan. Dengan penampilanku yang masih menggunakan jeans ketat, kaos street yang menimbulkan lekuk tubuhku tercetak begitu jelas sedangkan dia memakai gamis longgar dan jilbab panjang mnutup dada.  Ketika sedang berjlan dengannya, aku merasa bagaikan dua manusia yang dipandang berbeda dihadapan banyak orang, dia dipandang begitu sopan bahkan tidak ada laki-laki yang berani menggodanya. Bicaranya begitu lembut dan pandai memberikan nasihat yang bermanfaat, tak lupa diapun selalu mengajakku untuk shalat tepat waktu ketika adzan di masjid kampus berkumandang.
“Kamu lagi shalat?” Cara dia mengajakku untuk beribadah memang berbeda dengan teman-teman lain. Ketika teman-teman lain langsung to the point dengan ajakan yang biasa aja “Shalat yuk dah adzan.” Dia memiliki cara tersendiri yang sampai saat ini aku masih hapal betul bagaimana suara lembutnya untuk mengajakku shalat tanpa kalimat yang pasti , bahkan tanpa adanya kalimat ajakan. Sesekali aku pernah ikut bergabung dengan oranisasi yang dia ikuti yaitu lembaga dakwa kampus.
“Masya Allah, orang-orangnya begitu ramah.” Dalam hatiku bergumam, mungkin yang memilih jalan kebaikan dengan bergabung dalam organisasi ini hanya orang yang memiliki kesadaran dalam dirinya sendiri untuk menuju syurga, sungguh ketika aku bergabung dengan mereka merasa ada ketentraman tersendiri dalam hati ini. Tidak ada yang menydutkan kehadiranku yang dengan penampilan jilbab jilboob dan jeans ketat, mereka begitu ramah terhadapku.
Siang ini, aku akan diajaknya untuk menghadiri kajian rutin yang diadakan setiap minggunya di sekertariat organisasi tersebut. Kajian kai ini bertemakan jilbab, karena tepat memasuki bulan Februari sebagai hari jilbab nasional. Selesai mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh ustadzah, aku mulai berpikir untuk mengulurkan jilbabku, meninggalkan pakaian ketatku, menutup matakaki dengan kaos kaki.
“Lus, aku mau pakai jilbab syar’i tapi takut dibilang teman-teman sok suci.”  Aku mengungkapkan keganjalanku selama ini, hatiku mulai terketuk untuk jilbab syar’i semenjak beberapa bulan lalu. Tetapi perasaan takut akan cemoohan teman-teman membuatku ragu, ditambah dengan adanya pengetahuan agamaku yang minim. Lusi, temanku yang baik hati ini selalu berusaha untuk manesahtiku untuk meyakinkan tentang keutamaan dan manfaat yang didapat dengan menggunakan jilbab syar’i.
Berawal dari situlah aku memantapkan diri untuk menutup auratku dengn maksimal mungkin, pertama kali menggunakan jilbab syar’i berwarna abu muda pemberian Lusi. Bentuk segi empat berbahan wolly crape, aku masih ingat ketika bagaimana dia memberikan jilbab itu dengan penuh harap agar aku dapat menggunakannya.
Orang tuaku yang selalu mendukung untuk berhijrah dari celana jilbab paris ke jilbab syar’i, mereka terlihat begitu bahagia saat aku pertama kali memakai jilbab syar’i di dalam rumah. Hal yang sangat mengharukan bagiku, ketika mereka menatapku dengan penuh kebahagiaan tersendiri.
“Alhamdulillah, ibu senang dengan perubahan kamu sekarang.” Yah, itulah kalimat yang pertama kali ibu ucapkan ketika melihat aku yang sedang memakai jilbab pemberian dari teman baikku.
Suatu hari, Ayah sahabat SMA ku meninggal dunia. Aku pergi berlayad bersama sahabat-sabahat SMA ke rumah duka, dengan memakai gamis longgar warna coklat, menutup mata kaki dengan kaos kaki dan memakai jilbab abu pemberian dari Lusi. Ini adalah pertama kali aku menggunakan jilbab syar’i di luar rumah, niatku sudah besar untuk memakainya hari ini. Keyakinku kepada sahabat-sahabat SMA akan mendukung untuk menggunakan jilbab syar’i ini begitu besar tertanam dalam benakku. Dengan perasaan bangga atas perubahanku saat ini, aku pergi ke rumah temanku dengan mengendarai sepeda motor fasilitas orang tua, dalam perjalanan aku sudah merancang kalimat-kalimat manis untuk pembuka pertemuan. Kita memang sudah lama tidak bertemu, hampir satu tahun setelah lulus dari SMA kita disibukan dengan aktivitas masing-masing sehingga menyita waktu kita untuk silaturahmi. Sesampainya di rumah duka, kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Mata-mata mereka terbelalak menatapku dengan tajam. Bagaikan menimang-nimang ingatan yang telah hlang ditelan angin berhembus kencang, tatapan mereka seperti tidak biasa memandangku begitu tajam, menelusuri seluk beluk tubuhku yang berbalut dengan gamis longgar, kaos kaki dan jilbab besar yang berukuran seratus tiga puluh centi meter.
Belum sempat aku duduk melepas lelah dalam perjalanan, serbuan pertanyaan langsung menerpaku. Pertanyaan-pertanyaan yang membuatku tersipu bahkan membuat bibir ini kelu untuk berkata-kata. Seperti orang baru tanpa lebih mengenal terdahulu, asing. Aku merasa asing dalam lingkarang meja yang dikelilingi oleh teman-teman dekatku dahulu.
“Kamu pakai jilbab apa karung sih? Besar banget.” Sontak kaget dengan pertanyaan teman laki-laki yang bertanya seperti itu.
“Kamu ikut aliran apa sih, kok kerudungnya besar banget?” temanku juga melempar pertanyaan yang membuat bibirku tak mampu bergerak memberikan jawaban selai tersenyum.
“Wih..., ada ustadzah baru nih.”
“Perempuan sholeha nih.”
“Mamah Dedeh nih.” Disertai tawa yang lirih tidak sedikit dari mereka yang melemparkan cemoohan dengan kedatangaku dan penampilan yang berbeda, biasanya aku yang memakai jeans ketat dan kaos menggantung di atas paha. Mungkin mereka terkejut dengan perubahanku.
Semangatku mulai menurun ketika mendapatkan berbagai cemoohan dari beberapa temanku, di kampus akupun mendapatkan respon yang sama. Kembali lagi dengan hati nurani yang ingin senantiasa memperbaiki diriku di hadapan Allah. Aku ingin menjalankan perintahnya dengan taat, niat yang membangkitkan kembali semangat ini. Pernah suatu hari aku menggunakan jilbab syar’i, kemudian ditarik-tarik oleh teman-teman kelasku sehingga membuat jilbab robek terkena sangkutan jarum. Aku menangis demi memepertahanka jilbab yang terpasang di kealaku.
Banyak yang berbisik ketika aku melewati kerumunan orang di tepi lorong kampus, dengan tatapan seyum meledek dan tidak sedikit dari mereka yang memandang dari atas hingga bawah menelusuri penampilanku. Berubah menjadi baik ternyata tidak mudah untuk dipandang lebih baik pula di mata mereka.
“Sok suci kamu, pakai jilbab yang biasa-biasa aja dong. Udah masuk komunitas Lusisih jadi gitu.” Mereka juga banyak yang memojokanku, mungkin bagi Lusitemanku ini sudah bukan hal aneh yang ia temui dan dengar dari mulut teman-temannya. Dia sudah kebal dengan gunjingan-gunjingan ini,  baginya tidak peduli lagi soal pembicaraan orang-orang tentang penampilannya yang terpenting dia mempunyai nilai pandang di hadapan Allah. Banyak sekali yang menentang ketika aku memutuskan untuk memanjangkan jilbabku, terutama teman-teman dekatku.
Berkali-kali aku dikatakan mengikuti aliran sesat. Bagiku ini merupakan perkataan yang begitu menyakitkan di hati, mencoba untuk menjelaskan kepada mereka bahwa aku berada di jalan yang benar, berada di jalan Allah. Bukankah Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk menutup aurat dan itu semua terdapat dalam Al-Quran.

وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
 Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung (khimar) ke dada-dada mereka.(QS an-Nur [24];31).

Aku masih ingat betul tentang dalil yang dijelaskan oleh ustadz ketika mengikuti kajian rutin untuk akhwat di kota ini, semuanya aku catat ketika mendengarkan materi yang disampaikan dengan tujuan agar dapat mengingat dan mempelajarinya setelah pulang dari kajian tersebut. Dengan penuh harap setelah mempelajarinya dapat juga di terapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Perlu waktu beberapa bulan untuk meninggalkan jeans dan kaos-kaos ketat. Untuk perubahan yang lebih baik membutuhkan uang yang lebih, harga jilbab syar’i yang lebih mahal dari jilbab paris, harga gamis yang lebih mahal dari kaos, tetapi semua ini aku lakukan karena niat untuk memperbaiki diri di hadapan Allah. Orang tuapun ikut membantu dengan senang hati dalam perubahanku, ibu juga membelikan beberapa gamis dan jilbab syar’i baru untuk aku pakai ke kampus.
Yang awal hanya mempunyai kerudung panjang dan tebal satu itupun diberikan oleh temanku, uang yang dulu digunakan untuk mewarnai rambut di salon kini berganti menjadi untuk membeli jilbab panjang dan gamis longgar. Memang sejak dulu aku selalu disuruh memakai jilbab oleh ibuku, namun aku selalu menolak karena aku pikir nggak masalah aku nggak pakai jilbab asal aku tidak macam-macam dan kulihat banyak perempuan yang memakai jilbab namun kelakuannya munafik dan lebih buruk dari yang tidak memakai jilbab.
Ketika aku mengaku belum siap dan hatinya belum tertahta, hatinya belum sesuci jilbab, namun yang perlu diketahui bahwa jilbab bukan menjadi lambang kesempurnaan akhlaq bagi seorang perempuan muslim namun ini adalah sebuah kewajiban. Semua manusia pasti merasa masih jauh dari kata sempurna begitupun aku, namun yang harus dilakukan adalah untuk memperbaki diri .
Aku sudah tidak peduli lagi dengan gunjingan-gunjingan teman-temanku, biarkan mereka menjauhiku dengan alasan bahwa aku tidak pantas untuk bergaul dengannya. Katanya, aku sudah terkontaminasi virus alim oleh si Lusi atau bahkan dikatakan mengikuti aliran sesat. Satu persatu dari mereka mulai menjauh bahkan teman-teman SMA juga begitu. Ketika mereka mengadakan acara, mereka sudah tidak pernah mengajak bahkan sekedar menghubungiku pun tidak sama sekali.
Tidak masalah mereka menjauhiku dengan alasan yang seperti itu, namun aku terus berusaha baik kepada mereka, berusa untuk menjalin silaturahmi kepada pertemanan yang kian lama sudah terjalin begitu saja. Perubahanku tidak menjadi alasan untuk memilih teman dan menjauhi teman-teman lamaku yang belum berljilbab sya’i. Dalam benak, akupun ingin mengajak mereka untuk meninggalkan jeans dan kaos ketat yang menampakkan lekuk tubuh.  Namun apalah daya, semakin hari mereka semakin mejauhiku begitu saja.
“Kamu udah enggak asik sekarang, beda dengan dulu.” Ini perkataan temanku ketika terakhir berkumpul disalah satu kedai makan di kota ini, dia beranggapan bahwa aku mulai memberi batasan kepada mereka. Sama sekali aku tidak memberikan batasan sedikitpun, tetapi aku mulai merasa bahwa dengan jilbab panjang yang menutup aurat ini juga melatih menjadi sosok yang senantiasa memiliki rasa malu, dengan jilbab yang menutup aurat menjadikan hatiku lebih terlatih untuk tidak menampakan aurat dihadapan laki-laki.
Rasa malu itu muncul dengan sendirinya ketika jilbab panjang sudah mengulurkan hati ini untuk menutup segala aurat, kesadaranku mulai terasa saat ini ketika dulu lebih memilih untuk memperbaiki diri daripada memperbaiki penampilan yang sesuai syar’iat islam. Hati menjadi lebih tenang, lebih mempunyai rasa malu, malu tersebut bukan hanya terhadap manusia namun juga merasa malu kepada Allah.
Perasaan malu dalam berpakaian terbuka lamban laun akan tumbuh menjadi malu terhadap kelakuan sehari-hari, misalnya perkataan yang tidak sopan, sering teriak-teriak, sering nongkrong dengan yang bukan mahram, dan shalat lima waktu yang dulu bolong-bolong menjadi rajin.  Memperbaiki diri memang sulit namun jika terus belajar sedikit demi sedikit akan mendapatkan perubahannya ditambah bergaul dengan perempuan-perempuan sholihah yang kutemukan setiap kajian menjadikan semakin memantapkan diri untuk lbih berjilbab syar’i, berproses sedikit demi sedikit karena aku yakin Allah selalu memberikan jalan untuk kesungguhan hamba Nya dalam memperbaiki diri.
Saat ini aku merasa benar-benar menyesal karena dulu menunda waktu untuk menutup aurat dengan jilbab. Seandainya waktu dapat membawaku kembali dalam masa lampau yang telah kuhabiskan sia-sia begitu saja dengan pergaulan yang tidak jelas membawaku ke arah mana. Dengan jilbab panjang yang menutup aurat ini, aku merasa menjadi pribadi yang lebih baik. Tidak ada lagi tatapan laki-laki yang tidak sopan, tidak ada lagi laki-laki yang menggagu dalam hal ucapan, seakan laki-laki menghormati pekaian yang aku kenaka saat ini. Dalam perjalanan aku juga merasa begitu nyaman dengan menggunakan jilbab syar’i, karena tidak ada pelecehan-pelecehan yang diberikan oleh laki-laki hidung belang. Benar adanya pelecehan terhadap perempuan itu karena ulah perempuannya sendiri, jangan heran jika kamu berpakain rok mini kemudian laki-laki menggoda sampai terjadinya pemerkosaan, naudzubillah....
Semua itu terjadi karena ulah perempuan sendiri, dengan memamerkan keindahan tubuhnya sehingga menimbulkan syahwat bagi laki-laki yang memandangnya. Begitupun jika kita berpenampilan sopan, menutup aurat semua laki-laki tidak akan ada yang berani untuk melecehkan perempuan. Bagaimana mungkin untuk mengundang syahwat laki-laki sementara semua anggota badan sang perempuan tertutup rapat.


Ulasan Hikmah

Berjilbab sayr’i memang tidak melulu soal untuk memantaskan diri terlebih dahulu, namun kita perlu yakini bahwa ketika kita sudah menggunakan hijab syar’i dengan sendirinya hati dan tingkah laku kita akan menjadi lebih baik dengan berjalananya waktu. Tidak perlu mendengarkan perkataan orang-orang bahwa yang menggunakan hijab syar’i itu orang-orang fanatik yang mengikuti suatu aliran (sesat), yah memang orang yang memakai jilbab syar’i ini mengikuti aliran. Aliran yang sesuai diperintahkan Allah yah....
Dengan jilbab syar’i hati menjadi lebih tenang dan jauh dari prasangka-prasangka buruk yang mengganjal di pikiran kita.
Yuk, ganti jilboob dengan yang lebih syar’i.


 



                       



Comments

Popular posts from this blog

Dengan Puisi, Aku (taufiq ismail)

APRESIASI PUISI ANALISIS SAJAK MENGGUNAKAN RESPON PEMBACA

Khawatir perihal jodoh?