gangguan berbicara (tugas UAS)



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Kata Pengantar
Fenomena kebahasaan yang berada di sekitar kita sudah cukup kompleks. Salah satuny tergambar pada peristiwa gagap. Gagap adalah peristiwa perhentian (penjedaan) bahasa karena keraguan dalam pelafalan atau karena takut salah (slip lidah) baik pada anak-anak atau orang dewasa sebagai akibat tekanan psikologis pada saat mereka masih kecil atau pada saat awal mereka memperoleh bahasa dalam masa perkembangannya. Dengan ini penulis melakukan penelitian pada seorang anak yang dalam berbicaranya gagap, dengan jelas bahwa gagap bias terjadi dimana saja, kapan saja dan kepada siapa saja.
Makalah ini akan membahas dan mendeskripsikan salah satu gangguan kelancaran berbicara atau gagap yang terjadi pada anak dari penyebab terjadinya, karakteristik atau gejala, serta penanganan pada anak yang mengalaminya. Secara garis besar, Gagap dapat didefinisikan sebagai gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara. Gejalanya adalah Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata, atau suatu bloking yang spasmodik, bisa terjadi spasme tonik dari otot-otot bicara seperti lidah, bibir, dan laring.
Gangguan kelancaran berbicara menarik untuk dikaji karena gangguan kelancaran berbicara dapat menghambat anak dalam berkomunikasi dengan orang lain, sehingga dapat berpengaruh pada kondisi psikologis anak yang dapat berakibat fatal dan membuat anak terisolir dari lingkungan sosial dan pendidikannya. Dengan diketahuinya salah satu gangguan berbicara tersebut, diharapkan orang tua atau kerabat terdekat anak dapat mendeteksi sejak dini salah satu gangguan kelancaran berbicara hingga dapat pula di atasi sedini mungkin.







BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Teori
A. Pengertian Psikolinguistik
Psikolinguistik mempelajari faktor-faktor psikologis dan neurobiologis yang memungkinkan manusia mendapatkan, menggunakan, dan memahami bahasa (wikipedia). Selain itu, Garnham (1985:1) menyatakan bahwa psikolinguistik adalah kajian tentang mekanisme- mekanisme mental yang menjadikan manusia menggunakan bahasa. Di sisi lain, Aitchison(1998:1) berpendapat psikolinguistik adalah studi tentang bahasa dan minda. Tidak hanya itu, Harley (2001:1) menyebut psikolinguistik sebagai suatu studi tentang proses-proses mental dalam pemakaian bahasa. Dilanjutkan dengan pernyataan Clark dan Clark (1977:4) yang menyatakan psikolinguistik berkaitan dengan tiga hal utama yaitu komprehensi, produksi dan pemerolehan bahasa. Kemudian, psikolinguistik juga dapat dikatakan sebagai proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan bahasa itu diperoleh oleh manusia (Slobin, 1974; Meller, 1964; Slama Cazahu, 1973). Levelt (Marat, 1983: 1) mengemukakan bahwa Psikolinguistik adalah suatu studi mengenai penggunaan dan perolehan bahasa oleh manusia. Seirama dengan hal itu, Aitchison (Dardjowidojo, 2003: 7) berpendapat bahwa psikolinguistik adalah studi tentang bahasa dan minda. Sejalan dengan pendapat di atas, Field (2003: 2) mengemukakan psycholinguistics explores the relationship between the human mind and language ‘psikolinguistik membahas hubungan antara otak manusia dengan bahasa’. Kridalaksana  (1982:140) pun berpendapat sama dengan menyatakan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari hubungan  antara bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia serta kemampuan berbahasa dapat diperoleh. Jadi, dapat disimpulkan psikolinguistik adalah suatu cabang ilmu linguistik interdisipliner yang mengkaji proses-proses mental manusia dikaitkan dengan perilaku bahasa seseorang.
Psikolinguistik membahas hubungan bahasa dengan otak dalam memproses dan mengkomunikasikan ujaran dan dalam akuisisi bahasa Hal yang penting adalah bagaimana memproses dan menghasilkan ujaran dan bagaimana akui sisi bahasa itu berlangsung. Proses bahasa berlangsung adalah pekerjaan otak. Yang tidak dimengerti dan tidak diketahui yang pasti ialah bagaimana proses pengolahan bahasa sehingga berwujud satuan-satuan yang bermakna dan bagaimana proses pengolahan satuan ujaran yang dikirim oleh pembicara sehingga dapat dimengerti pendengar. Yang pasti segala sesuatu berada dalambatabatas kesadaran ( Hartley), Psikolinguistik secara langsung berhubungan dengan proses kode dan mengkode seperti orang berkomukasi (Carles Osgood dan Thomas Sabeok ), Psikolinguistik adalah gabungan melalui psikologi dan linguistik. Bagaimana telaah atau studi pengetahuan bahasa, bahasa dalam pemakaian , dan perubahan bahasa. Menurut Lado psikologi hanya merupakan pendekatan. Pendekatan untuk menelaah pengetahuan bahasa, pemakaian bahasa dan perubahan bahasa (Robert Lado ), Psikolinguistik adalah ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya pembicara membentuk dan membangun suatu atau mengerti kalimat tersebut.  Hal ini mengacu pada domain kognitif, yakni bagaimana bahasa berproses dalam otak kita. Bahasa yang diwujudkan dalam kalimat dihasilkan oleh pebicara yang kemudian diusahakan untuk dimengerti oleh pendengar. ( Emon Back ), Psikolinguistik merupakan telaah akuisisi bahasa dan tingka laku linguistik terutama mekanisme psikologis yang bertujuan pada kedua bahasa tersebut. Akuisisi bahasa bersangkut paut dengan proses pemerolehan bahasa. Tingkah laku linguistik mengacu pada proses kompetensi dan performance bahasa. Proses ini bahasa ini tetap dalam otak. Oleh karena itu mekanisme psikologi sangat berperan ( Langacker ), Psikolinguistik dalam pengertian luas membicarakan hubungan antara psean dengan sifat-sifat kemandirian manusia yang menyeleksi dan nmenafsirkan pesan ( Diebolt ) dan Psikolinguistik adalah hubungan antara kebutuhan kita untuk berekpresi dan berkomukasi dan benda-benda yang ditawarkan kepada kita melalui bahasa yang kita pelajari sejak kecil dan tahap-tahap selanjutnya ( Paul Fraisse ).
        B. Cabang – Cabang Ilmu Psikolinguistik
Psikolinguistik telah menjadi bidang ilmu yang sangat luas dan kompleks dan berkembang pesat sehingga melahirkan beberapa cabang ilmu psikolinguistik. Diantara cabang ilmu psikolinguistik adalah sebagai berikut :
      a.       Psikolinguistik Teoritis : Psikolinguistik Teoritis ini membahas teori-teori bahasa yang berkaitan dengan proses- proses      mental manusia dalam berbahasa. Misalnya  dalam rancangan fonetik, rancangan pilihan kata, rancangan sintaksis, rancangan wacana, dan rancangan intonasi.
      b.      Psikolinguistik Perkembangan : Psikolinguistik Perkembangan ini berkaitan dengan proses pemerolehan bahasa, baik pemerolehan bahasa pertama maupun pemerolehan bahasa kedua. Subdisiplin ini mengkaji proses pemerolehan fonologi, proses pemerolehan simantik dan proses pemerolehan sintaksis secara berjenjang, bertahap dan terpadu.
      c.       Psikolinguistik Sosial : Psikolinguistik Sosial ini berkenaan dengan aspek-aspek  social bahasa. Bagi suatu manyarakat bahasa, bahasa itu bukan hanya merupakan suatu gejala dan identitas social saja, tetapi juga merupakan suatu ikatan bathin dan nurani yang sukar ditinggalkan.
      d.      Psikolinguistik Pendidikan : Psikolinguistik Pendidikan ini mengkaji aspek-aspek pendidikan secara umum dalam pendidikan formal di sekolah. Umpamanya peranan bahasa dalam pengajaran membaca, pengajaran dalam kemahiran berbahasa, dan pegetahuan mengenai peningkatan kemampuan berbahasa dalam proses memperbaiki kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan.
      e.       Psikolinguistik Neurology ( neuropsikolinguistik ) : Psikolinguistik Neurology ini mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa dan otak manusia. Para pakar neurology telah berhasil menganalisis struktur biologis otak serta telah memberi nama pada bagian struktur otak itu. Namun ada pertanyaan yang belum dijawab secara lengkap yaitu apa yang terjadi dengan masukan bahasa dan bagaimana keluaran bahasa diprogramkan dan dibentuk dalam otak itu.
      f.       Psikolinguistik Eksperimen : Psikolinguistik Eksperimen ini meliputi dan melakukan eksperimen dalam semua kegiatan bahasa dan berbahasa pada satu pihak dan prilaku berbahasa dan akibat berbahasa pada pihak lain.
      g.      Psikolinguistik Terapan : Psikolinguistik Terapan ini berkaitan dengan penerapan dari temuan enam subdisiplin psikolinguistik diatas kedalam bidang tertentu yang memerlukannya. Yang termaksuk sub disiplin ini ialah psikologi, linguistik, pertuturan dan pemahaman, pembelajaran bahasa, pengajaran membaca neurology,psikistri, komunikasi dan sastra.





         C. Gangguan Berbicara
Berbicara merupakan aktifitas motorik yang mengandung modalitas psikis. Oleh karena itu, gangguan berbicara ini dapat tiga kategori. Pertama, gangguan mekanisme berbicara yang berimplikasi pada gangguan organic. Kedua, gangguan berbicara psikogenik, dan ketiga gangguan akibat multifaktorial. Gangguan Mekanisme Berbicara.
Proses berbicara adalah suatu proses produksi ucapan (percakapan) oleh kegiatan terpadu dari pita suara, otot-otot yang membentuk rongga mulut serta kerongkongan dan paru-paru.
Maka gangguan berbicara berdasarkan mekanismenya ini dapat dirinci menjadi gangguan berbicara disebabkan kelainan pada paru-paru (pulmonal), pada pita suara (laringal) pada lidah (lingual), pada rongga mulut dan kerongkongan (resonantal).
      1)      Gangguan akibar faktor pulmonal : Gangguan ini dialami oleh para penderita paru-paru. Para penderita penyakit paru-paru ini kekuatan bernafasnya sangat kurang sehingga bicaranya diwarnai oleh nada yang monoton, volume suara kecil, dan terputus-putus.
      2)      Gangguan Akibat Faktor Laringal : Gangguan pada pita suara sehingga suara menjadi serak atau hilang sama sekali.
      3)      Gangguan Akibat Faktor Lingual : Lidah yang terluka akan terasa perih jika di gerakan. Untuk mencegah timbulnya rasa pedih aktifitas lidah di kurangi. Dalam keadaan ini maka pengucapan sejumlah fonem menjadi tidak sempurna. 
      4)      Gangguan akibat factor resonansi : Menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi bersengau. Hal ini terjadi juga pada orang yang mengalami kelumpuhan pada langit-langit lunak (velum), rongga langit-langit itu tidak memberikan resonansi yang seharusnya, sehingga suaranya menjadi bersengau.
                 b.      Gangguan Berbicara Psikogenik.
Gangguan ini sebenarnya tidak bisa disebut sebagai gangguan berbicara. Mungkin lebih tepatnya disebut sebagai variasi cara berbicara yang normal, tetapi merupakan ungkapan dari gangguan di bidang mental. Modalitas mental yang tertangkap oleh cara berbicara sebagian besar ditentukan oleh nada, intonasi, dan intensitas suara, lafal, dan pilihan kata. Ujaran yang berirama lancar atau tersendat-sendat dapat juga mencerminkan sikap mental si pembicara. Gangguan ini antara lain:
      a.       Berbicara manja : Disebut berbicara manja karena cara bicaranya seperti anak kecil. Jadi ada kesan anak (orang) yang melakukannya meminta perhatian untuk dimanja. Umpamanya, anak-anak yang baru terjatuh, terluka, atau mendapat kecelakaan, terdengar adanya perubahan pada cara berbicaranya. Fonem bunyi [s] dilafalkan menjadi [c] sehingga kalimat ”Saya sakit, jadi tidak mau minum susu atau makan” akan diucapkan menjadi ”Caya cakit, tidak mau minum cucu atau makan”. Dengan berbicara demikian dia mengungkapkan keinginan untuk dimanja. Gejala seperti ini kita dapati juga pada orangtua pikun atau jompo (biasanya wanita).
      b.      Berbicara kemayu : Berbicara kemayu berkaitan dengan perangai kewanitaan yang berlebihan. Jika seorang pria bersifat atau bertingkah laku kemayu jelas sekali gambaran yang dimaksudkan oleh istilah tersebut. Berbicara kemayu dicirikan oleh gerak bibir dan lidah yang menonjol atau lemah gemulai. Meskipun berbicara seperti ini bukan suatu gangguan ekspresi bahasa, tetapi dapat dipandang sebagai sindrom fonologik yang mengungkapkan gangguan identitas kelamin terutama yang dilanda adalah kaum pria.
      c.       Berbicara gagap : Gagap adalah berbicara yang kacau karena sering tersendat-sendat, mendadak berhenti, lalu mengulang-ulang suku kata pertama, kata-kata berikutnya, dan setelah berhasil mengucapkan kata-kata itu kalimat dapat diselesaikan. Apa yang menyebabkan terjadinya gagap ini masih belum diketahui secara pasti, tetapi hal-hal berikut dianggap mempunyai peranan penting penyebab terjadinya gagap diantaranya :
a)      Faktor stres dalam kehidupan berkeluarga
b)       Pendidikan anak yang dilakukan secara keras dan ketat, dengan membentak
bentak; serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
c)      Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
d)      Faktor neurotik famial.
      d.      Berbicara latah : Latah sering disamakan dengan ekolalla, yaitu perbuatan membeo, atau menirukan apa yang dikatakan orang lain; tetapi sebenarnya latah adalah suatu sindrom yang terdiri atas curah verbal repetitif yang bersifat jorok (koprolalla) dan gangguan lokomotorik yang dapat dipancing. Koprolalla pada latah ini berorientasi pada alat kelamin laki-laki. Yang sering dihinggapi penyakit latah ini adalah orang perempuan berumur 40 tahun ke atas. Awal mula timbulnya latah ini, menurut mereka yang terserang latah, adalah ketika bermimpi melihat banyak sekali penis lelaki yang sebesar dan sepanjang belut. Latah ini punya korelasi dengan kepribadian histeris. Kelatahan ini merupakan ”excuse” atau alasan untuk dapat berbicara dan bertingkahlaku porno, yang pada hakikatnya berimplikasi invitasi seksual.

      D. Bicara Gagap
     
Gagap atau stuttering merupakan salah satu bentuk kelainan bicara yang ditandai dengan tersendatnya pengucapan kata-kata. Gagap terjadi ketika sebagian kata terasa lenyap, penutur mengetahui kata itu, akan tetapi tidak dapat menghasilkannya (Cahyono, 1994: 262). Wujudnya secara umum, tiba-tiba anak kehilangan ide untuk mengucapkan apa yang ingin dia ungkapkan sehingga suara yang keluar terpatah-patah dan diulang-ulang seperti ”i-i-ibu....”, sampai tidak mampu mengeluarkan bunyi suara sedikit pun untuk beberapa lama. Reaksi ini bersamaan dengan kekejangan otot leher dan diafragma yang disebabkan oleh tidak sempurnanya koordinasi otot-otot bicara. Bila ketegangan sudah berlaku, akan meluncur serentetan kata-kata sampai ada kekejangan otot lagi.
Menurut Tri Gunardi, S.Psi., gagap merupakan suatu gangguan bicara dimana aliran bicara terganggu tanpa disadari dengan adanya pengulangan dan pemanjangan suara, suku kata, kata atau frasa, serta jeda atau hambatan tak disadari yang mengakibatkan gagalnya produksi suara. Kalau dalam komunikasi, gagap merupakan salah satu gangguan irama kelancaran (disritmia) dalam tatanan ujaran.
Pendapat lainnya menyatakan bahwa gagap adalah masalah gangguan bicara yang mempengaruhi kefasihan bicara. Mereka yang mengalami kesulitan ini ditandai pengulangan bagian pertama dari kata yang hendak diucapkannya (seperti mmmmakan), atau menahan bunyi tunggal ditengah kata (misal begggggini). Sebagian orang yang gagap malah lebih parah, tidak ada satu suara pun yang keluar, tertahan semua di kerongkongan. 

Kemampuan berkomunikasi seorang anak dianggap terlambat apabila kemampuan berbicara dan penguasaan bahasa jauh di bawah kemampuan anak-anak seusianya. Salah satu gangguan berbicara adalah gagap. Bicara gagap adalah gangguan kelancaran bicara yang terputus dalam satu rangkaiannya. Gangguan tersebut pada setiap anak berbeda bentuk kelainannya, dalam waktu tertentu berlainan jenis gangguan gagap yang timbul.
Sebelum mengetahui gejala gagap lebih lanjut, perlu diketahui bahwa terdapat tiga tipe gagap berdasarkan berat atau ringannya gangguan, yaitu :
  Gagap Perkembangan
Gagap perkembangan biasa terjadi pada anak-anak usia 2-4 tahun dan remaja yang sedang memasuki masa pubertas. Kondisi gagap pada periode usia 2-4 tahun merupakan keadaan yang masih wajar terjadi, karena hanya sebagai bagian dari proses perkembangan bicara anak. Gagap ini biasanya muncul disebabkan karena kontrol emosi penderita yang masih relatif rendah, serta antusiasme anak untuk mengemukakan ide-idenya belum disertai dengan kematangan alat bicaranya. Sementara pada anak remaja biasanya disebabkan karena rasa kurang percaya diri dan kecemasan akibat perubahan fisik, mental dan sosial yang sedang dialaminya. Jadi, gagap pada fase perkembangan merupakan gagap yang masih dalam tahap biasa dan wajar-wajar saja.
  Gagap Sementara/Gagap Ringan
Anak-anak usia 6-8 tahun sering mengalami gagap sementara, hal ini biasanya hanya berlangsung sebentar. Umumnya disebabkan oleh faktor psikologis, misalnya anak mulai memasuki lingkungan baru yang lebih luas, seperti lingkungan sekolah dan pergaulan, sehingga anak memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri baik secara mental maupun sosial.
  Gagap Menetap
Gagap ini dapat terjadi pada anak usia 3-8 tahun. Biasanya lebih banyak disebabkan oleh faktor kelainan fisiologis alat bicara dan akan terus berlangsung, sebagian kata yang akan dituturkan oleh penderita gagap akan terasa lenyap, meskipun penutur mengetahui akan kata-kata yang ingin dituturkannya, namun ia tidak mampu untuk menghasilkan kata-kata tersebut dengan sempurna. Anak yang menderita gagap menetap, alternatif penanganannya adalah dengan melakukan terapi wicara (speech therapy).
Gejala Dan Karakteristik Gangguan Kelancaran Berbicara (Gagap)
Gagap merupakan suatu gangguan bicara dimana aliran bicara terganggu tanpa disadari dengan adanya pengulangan dan pemanjangan suara, suku kata, kata atau frasa, serta jeda atau hambatan tak disadari yang mengakibatkan gagalnya produksi suara. Dalam komunikasi, gagap merupakan salah satu gangguan irama kelancaran (disritmia) dalam tatanan ujaran. 
Gagap atau tidaknya seorang anak sudah bisa dideteksi sejak fase true speech (bicara benar) di usia 18 bulan. Kegagapan ini akan tampak jelas di usia 4 - 5 tahun, karena pada usia ini seharusnya perkembangan bahasa anak sudah baik, pemahamannya sudah bagus, pembentukan kalimat, bahasa ekspresif, kelancaran bicaranya juga sudah bagus, serta sosialisasi anak pun sudah lebih luas.
Kondisi gagap pada anak bervariasi dari yang ringan sampai berat. Pada gagap yang berat, selain sulit atau bahkan tak mampu mengucapkan kata dengan huruf awal b, d, s, dan t, juga sering kali diikuti oleh gerakan berulang pada bagian tubuh yang tak bisa dia kendalikan. Namanya tics, yang terjadi pada wajah atau gerak-gerak kecil pada bagian punggung yang berulang dan tak terkendali. Gerakan ini merupakan representasi perjuangan dari dalam dirinya (internal) yang berat untuk dapat berbicara lancar. Napasnya pun relatif lebih cepat. Serangan gagap ini dapat terjadi setiap saat dan pada situasi-siatuasi tertentu seperti harus berbicara di hadapan orang-orang yang dianggapnya memiliki kelebihan daripada dirinya. 
Sementara pada gagap yang ringan, anak dalam keadaan tertentu dapat bicara normal dan lancar saat sedang sendiri, berbisik, menyanyi, dan di antara orang-orang yang dia anggap lebih rendah posisi atau usianya dibanding dirinya. Namun, gagap akan dialami jika ia merasa malu, rendah diri atau terlampau menyadari kondisi dirinya.
Gagap tidak akan berlanjut sampai dewasa bila anak diterapi dengan baik dan segera. Selain itu juga dibutuhkan dukungan dari lingkungan keluarga dan sekitarnya. Namun jika penyebabnya adalah herediter (keturunan), ada kemungkinan agak sulit untuk disembuhkan. Begitu juga, meski jika tingkat keparahannya ringan namun tidak ditangani dengan baik. Langkah yang dapat dilakukan adalah hendaknya anak Segera dikonsultasikan pada ahlinya, yaitu untuk masalah kecemasannya bisa dikonsultasikan ke psikolog, sedangkan masalah wicaranya ke terapis wicara, dan masalah performance/kinerjanya ke terapis okupasi.
Menurut Dr. Ehud Yairi, Ph.D. dari Department of Speech and Hearing Science, Universitas Illinois, Amerika Serikat, tanda-tanda anak yang mengalami gagap adalah sebagai berikut :
  1. Anak terlihat mengulang-ulang bunyi lebih dari dua kali, seperti i-i-i-ini.
  2.  Anak tampak tegang dan berjuang untuk bicara, hal ini dapat dilihat dari otot-otot wajah anak, terutama di sekitar mulut.
  3. Nada suara yang tidak stabil, mungkin naik seiring pengulangan.
  4. Terkadang pula suara anak terdengar seperti tercekat, udara atau suara tertahan selama beberapa detik.
  5. Jika telah diamati dan ternyata anak mengalami kegagapan dalam 10% lebih pada pembicaraannya, maka kegagapan yang dialaminya dianggap cukup parah.


F. Penyebab Gangguan Kelancaran Berbicara (Gagap)
Gagap bisa disebabkan oleh faktor fisik maupun psikologis. Faktor fisik kemungkinan berasal dari keturunan yang menyebabkan ketidaksempurnaan secara fisik, seperti gangguan pada syaraf bicara, gangguan alat bicara, keterbatasan lidah. Sedangkan faktor psikologis yaitu ketegangan yang berasal dari reaksi seseorang terhadap lingkungannya, di antaranya adalah stress mental karena sesuatu yang dirasakan, namun tidak mampu untuk dilakukan.
Menurut penelitian, gagap lebih banyak disebabkan oleh faktor psikologis dibanding fisiologis. Trauma, ketakutan, kecemasan, dan kesedihan pada masa kecil bisa menyebabkan seseorang menjadi gagap sampai dewasa. Misalnya, anak yang kedua orang tuanya sering bertengkar, sehingga membuat anak takut, cemas, sedih, dan sering menangis. Cara bicara yang gagap ketika menangis bisa menjadi kebiasaan sampai ia dewasa.

G.  Penanganan Anak Yang Mengalami Gagap
Dari hasil berbagai penelitian yang pernah dilakukan oleh para ahli, mengungkap fenomena, bahwa gagap lebih sering terjadi pada laki-laki dibanding pada perempuan. Sementara pada perempuan kecenderungannya adalah menderita latah.
Menurut Drs Suripto SSpTh, terapis wicara RS Dr Oen Surakarta, beberapa hal yang perlu diwaspadai terkait dengan gagap adalah apabila orangtua melihat anaknya gagap yang disertai dengan kesulitan mengucapkannya secara fisik. Sebagai contoh, anak memperlihatkan kesulitan mengoordinasikan alat-alat bunyi (mulut atau lidah) sehingga tampak seperti tidak wajar, atau sering memukul anggota tubuhnya agar keluar kata-kata sebagaimana yang tadi telah disinggung di atas. Jika hal ini terjadi sebaiknya orangtua segera memeriksa anaknya ke terapis wicara. Pendekatan yang banyak digunakan oleh terapis wicara untuk menangani anak kecil yang gagap adalah program pelancaran bicara (fluency-shaping program). Dalam program ini, fokusnya adalah meningkatkan pengeluaran kata-kata yang lancar pada anak. Program tersebut dilakukan dengan tujuan agar anak berbicara satu suku kata atau kata dengan lambat dan rileks. Jumlah kata-kata ini kemudian pelan-pelan ditingkatkan sampai anak bisa bicara satu kalimat. Proses ini akan bermula dari beberapa minggu hingga beberapa bulan atau lebih. Metode ini akan efektif jika orangtua bisa mengikuti sesi terapi sehingga mereka bisa belajar menggunakan pendekatan yang sama di rumah
2.2 Identitas Subjek

Nama Anak : Bebi Zaskianti
Umur : 4tahun
Anak ke- : 4 dari 4 bersaudara
Nama Ibu : Ida saadah
Nama Ayah : Dimiyati
Pekerjaan Ibu : Guru SMP (PNS)
Pekerjaan Ayah : Guru SMA dan Pemilik Yayasan (PNS)
Alamat : jl. Moh Ramdhan Ds. Wangunharja Kec. Jamblang Kab. Cirebon
Diasuh : Neneknya (ibu tia)


















2.3 Asal-usul Anak Tersebut (Deskripsi Subjek).
       Penulis mengetahui asal-usul si A, dengan menggunakan metode wawancara dengan nenek si A tersebut. Pada awalnya ibu si A tidak menginginkan kehamilan yang keempat kalinya, ia merasa sudah cukup memiliki 3 orang anak yaitu kakak si A sendiri. Ibu si A juga tidak menyangka bahwa apa yang ia rasa itu hamil, bahkan ia merasaitu hanya sakit perut atau mual karena magh. Setelah melakukan pemeriksaan ke dokter kandungan, dan pada akhirnya ibu si A di vonis hamil.
       Setelah ibu si A mengetahui bahwa ia hamil, ibu si A berusaha mengugurkan kandungannya dengan berbagai cara seperti minum jamu yang memang dianjurkan untuk mengugurkan kandungannya, memukuli perutnya sendiri bahkan sampai melakukan senam yang gerakannya tidak wajar untuk seorang ibu yang sedang hamil.
       Si A lahir dengan keadaan premature dengan berat yang tidak normal, karena dari awal si ibu yang tidak menginginkan kelahiran anak keempatnya ini, memang dikatakan acuh bahkan tidak peduli dengan perkembangan anaknya, padahal anak tersebut berasal dari keluarga kalangan atas dan juga dari keluarga yang berpendidikan. Tetapi kembali lagi ke faktor semula, bahwa si ibunya tidak menginginkan si A sehingga, semenjak si A bayi sampai saat ini berumur 4 tahun si A tinggal dan diasuh bersama neneknya. Sering juga si A bersama siapa saja, artinya tidak hanya dengan neneknya dengan tetangganya,saudaranya pun ia dititipkan tanpa harus memlih karakter orang yang akan dititipkan si A tersebut.
       Dengan lingkungan yang apa adanya si A berada dalam lingkungan mana saja yang menyebabkan perkembangan si A tidak terkontrol, orang tua yang tidak memperhatikan bagaimana perkembangan dan kesehatan anaknya tersebut. Pada dasarnya si A ini tergolong anak yang cerdas bila mendapatkan perhatian dan pendidikan khusus dari orang tuanya, sayang sekali dengan keadaan orang tua si A yang tidak peduli si A harus berada dalam lingkungan yang kadang tidak sesuai dengan kategori umurnya.
       Si A itu sangat aktif, dia ingin bias berbicara layaknya orang dewasa atau orang yang umurnya diatas dia. Namun tetapi artikulasinya belum menguasai, ketika si A ingin bias mengucapkan seperti apa yang orang lain ucapkan, maka dia menirunya dengan mengeja, sering juga diajari dengan orang yang sedang bersamanya itu menggunakan jeda. Misalnya orang lain mengatakan “sarapan” orang tersebut mengajarkan kepada si A dengan menggunakan sa-ra-pan, tetapi dengan pengulangan (saa-ra-raa-pan). Mungkin karena faktor tersebut si A terdapat gangguan berbicara (bicara gagap perkembangan). Karena orang tua si A tidak pernah membawa atau memeriksakan keadaan si kepada pihak medis. Gagap nya si A itu tidak semua saat berbicara gagap, tetapi hanya ada keseringannya saja. Kadang kala si A berbicara lancar, dan sering juga berbicara tersendat-sendat atau gagap.
2.4 Deskripsi Subjek dengan Teori
Dilihat dari segi teori yang penulis pelajari, Bicara gagap adalah gangguan kelancaran bicara yang terputus dalam satu rangkaiannya. Gangguan tersebut pada setiap anak berbeda bentuk kelainannya, dalam waktu tertentu berlainan jenis gangguan gagap yang timbul.
Sebelum mengetahui gejala gagap lebih lanjut, perlu diketahui bahwa terdapat tiga tipe gagap berdasarkan berat atau ringannya gangguan, yaitu :
Gagap perkembangan biasa terjadi pada anak-anak usia 2-4 tahun dan remaja yang sedang memasuki masa pubertas. Kondisi gagap pada periode usia 2-4 tahun merupakan keadaan yang masih wajar terjadi, karena hanya sebagai bagian dari proses perkembangan bicara anak. Gagap ini biasanya muncul disebabkan karena kontrol emosi penderita yang masih relatif rendah, serta antusiasme anak untuk mengemukakan ide-idenya belum disertai dengan kematangan alat bicaranya. Sementara pada anak remaja biasanya disebabkan karena rasa kurang percaya diri dan kecemasan akibat perubahan fisik, mental dan sosial yang sedang dialaminya. Jadi, gagap pada fase perkembangan merupakan gagap yang masih dalam tahap biasa dan wajar-wajar saja.
       Dapat dilihat dengan teori yang tertera, bahwa si A mengalami gagap masa perkembangan, penulis sudah melakukan wawancara dan mendapatkan informasi dari Nenek nya bahwa si A ini sangat antusias untuk bisa berbicara dan berbahasa layaknya orang dewasa, sedangkan alat bicaranya masih belum bisa merespon ataupun belum sepenuhnya matang. Sehingga, bicara tebata-bata atau setengah-setengah. Jika hal ini sering dilakukan ,maka bisa menyebabkan gangguan berbahasa yang disebut gagap. Untungnya, si A ini berbicara gagap tidak dalam semua apa yang ia ucapkan, hanya kadang-kadang saja.





BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gagap merupakan salah satu gangguan berbicara. Secara garis besar, Gagap dapat didefinisikan sebagai gangguan kelancaran atau abnormalitas dalam kecepatan atau irama bicara. Gejalanya adalah Terdapat pengulangan suara, suku kata atau kata, atau suatu bloking yang spasmodik, bisa terjadi spasme tonik dari otot-otot bicara seperti lidah, bibir, dan laring.
Gagap ini biasanya muncul disebabkan karena kontrol emosi penderita yang masih relatif rendah, serta antusiasme anak untuk mengemukakan ide-idenya belum disertai dengan kematangan alat bicaranya.
Gangguan kelancaran berbicara ini tidak akan berlanjut sampai dewasa jika anak diterapi dengan baik dan segera, dan diberi dukungan dan motivasi dari lingkungan keluarga dan sekitarnya.

3.2 Saran
       Menurut Drs Suripto SSpTh, terapis wicara RS Dr Oen Surakarta, beberapa hal yang perlu diwaspadai terkait dengan gagap adalah apabila orangtua melihat anaknya gagap yang disertai dengan kesulitan mengucapkannya secara fisik. Sebagai contoh, anak memperlihatkan kesulitan mengoordinasikan alat-alat bunyi (mulut atau lidah) sehingga tampak seperti tidak wajar, atau sering memukul anggota tubuhnya agar keluar kata-kata sebagaimana yang tadi telah disinggung di atas. Jika hal ini terjadi sebaiknya orangtua segera memeriksa anaknya ke terapis wicara. Pendekatan yang banyak digunakan oleh terapis wicara untuk menangani anak kecil yang gagap adalah program pelancaran bicara (fluency-shaping program). Dalam program ini, fokusnya adalah meningkatkan pengeluaran kata-kata yang lancar pada anak. Program tersebut dilakukan dengan tujuan agar anak berbicara satu suku kata atau kata dengan lambat dan rileks. Jumlah kata-kata ini kemudian pelan-pelan ditingkatkan sampai anak bisa bicara satu kalimat. Proses ini akan bermula dari beberapa minggu hingga beberapa bulan atau lebih. Metode ini akan efektif jika orangtua bisa mengikuti sesi terapi sehingga mereka bisa belajar menggunakan pendekatan yang sama di rumah.


DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul Psikolingusitik Kajian teoritik Jakarta : Rineka Cipta 2009
Muslich,masnur.2008 .fonologi : Jakarta; pt bumi aksara























LAMPIRAN
1.      Foto subjek




2.      Rekapan Wawancara
(Dengan nenek si A)
Saya    : Asslamualaikum bu tia, apa ada waktu sebentar untuk berbincang-bincang?
Ibu       : Walaikum salam, ada apa dik? Silahkan.
Saya    : Maksud kedatangan saya kemari karena ada tugas kuliah, yang dimana dalam tugas itu saya harus meneliti bahasa atau berbicaranya anak-anak. Kalau ibu tidak keberatan, saya ingin meneliti cucu ibu si bebi, karena dia kan ngomongnya sedikit gagap. Mohon maaf, itupun kalau boleh.
Ibu       : Oh, iya tidak apa-apa dik silahkan.
Saya    : Sebenernya dik bebi itu awalnya kenapa bisa berbicaranya sedikit gagap seperti itu?
Ibu       : Ibu juga tidak tahu awalnya bagaimana, tapi dulu waktu ibunya bebi sedang hamil bebi itu dia mau menggugurkan kandungannya dengan minum segala macam obat, olahraga yang berat-berat,terus juga ibunya itu tidak menginginkan hamil lagi karena merasa sudah mempunyai 3 anak dan juga itu tidak menyangka kalau dikatakan hamil oleh dokter karena dikira hanya sakit perut dan mual-mual biasa saja.
Saya    : Lalu bagaimana dengan bebi ketika lahir?
Ibu       : Alhamdulillah tidak ada yang cacat, hanya saja dia lahir prematur dengan berat yang sangat ringan sekali.
Saya    : Apakah karena faktor tersebut bebi berbicaranya sedikit gagap?
Ibu       : Kalau masalah itu saya tidak tahu,karena tidak pernah diperiksakan ke pihak medis.
Saya    : Padahalkan anaknya pintar yah bu?
Ibu       : iya, memang anaknya pintar dan daya ingatnya cerdas.
Saya    : Apakah dia sering bersama orangtuanya? Misalkan mendapatkan perhatian yang lebih dari orang tuanya ?
Ibu       : Sangat jarang sekali bebi bersama orang tuanya, dia lebih sering bersama saya dan siapa saja seperti tetangga,saudara yang sudah besar-besar.
Saya    : Kalau masalah gizi apakah tercukupi?
Ibu       : Alhamdulillah tercukupi, tetapi kadang susah makan.
Saya    : Ngomong-ngomong umurnya berapa tahun yah bu?
Ibu       : Umurnya baru 4 tahun.
Saya    : kalau begitu terimakasih ibu,sudah berbincang-bincang dengan saya.
Ibu       :iya sama-sama.
Saya    : Assalamualaikum.
Ibu       : walaikumsalam.





























ANALISIS
PROSES GANGGUAN BERBAHASA
            Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Psikolingustik
Dosen : Hesti, S.Pd., M.Pd.

Oleh: Santi Nindi Asih
Npm : 112050105
Kelas : 2E

                                   

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
CIREBON
2013

Comments

Popular posts from this blog

Dengan Puisi, Aku (taufiq ismail)

APRESIASI PUISI ANALISIS SAJAK MENGGUNAKAN RESPON PEMBACA

Khawatir perihal jodoh?